Tantang Perkembangan Remaja

20 Oktober 2009

Anak-anak dan remaja adalah generasi penerus bangsa dan dunia ini, baik-buruknya suatu bangsa kedepan tergantung pembinaan generasi muda yang ada sekarang ini. Pada usia ini terjadi hal-hal baru pada anak-anak dan remaja, misalnya: ada perubahan fisik, merasa ingin bebas, diperlukan kemampuan bergaul atau beradaptasi dengan teman sebaya dan mampu menerima keadaan diri. Apabila seseorang anak-anak dan remaja gagal melalui tugas perkembangan pada usai yang sebenarnya, maka pada tahap perkembangan berikutnya akan menjadi masalah pada diri anak-anak dan remaja tersebut.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan anak-anak dan remaja, diantaranya: 1) Kutub Keluarga, 2) Kutub Sekolah dan 3) Kutub Masyarakat (Kristianus Atok dkk, 2005, 25).
Kutub Keluarga
Keluarga adalah merupakan lingkungan yang berperan penting dalam perkembangan remaja, karena disinilah pendidikan pertama kali diperoleh. Apabila didalam keluarga terdapat pendidikan yang baik, maka pengaruhnya positif bagi perkembangan anak-anak dan remaja. Demikian juga sebaliknya, apabila dalam keluarga tidak harmonis dan terdapat pandangan yang salah maka pengaruhnya negative bagi perkembangan anak-anak dan remaja.

Remaja khususnya perempuan mengambil peranan yang banyak dalam keluarga, ini dapat terlihat misalnya ikut orang tua ke ladang/bertani, mengurus adiknya, memasak didapur. Kemudian anak perempuan dipaksa untuk bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, akibatnya anak-anak dan remaja perempuan menjadi sulit untuk membuka relasi dengan remaja lainnya. Mereka menjadi minder, pemalu, tidak percaya diri, dan akhirnya mereka menjadi kehilangan harga diri, cenderung menutup diri dan bersikap menerima apa adanya. Kondisi inilah sehingga remaja perempuan selalu menjadi korban dalam setiap kekerasan yang terjadi dalam keluarga dan masyarakat.

Ada gambaran bahwa anak laki-laki wajar untuk santai dan bergaul lebih luas sedangkan anak perempuan dianggap tabu, dengan demikian sangat sulit sekali bagi remaja perempuan untuk berrelasi dengan sesamanya. Pada hal dalam diri seorang perempuan ada sikap kelemah-lembutan yang berpotensi dalam mengurus keluarga yang sehat dan lebih baik.

Kutub Sekolah
Sekolah adalah tempat untuk menimba ilmu dan tempat pertemuan antar anak-anak laki dan perempuan. Namun di sekolah-sekolah ada proses yang sentralistik dan diajarkan untuk memenuhi kurikulum nasional, tanpa mengindahkan nilai-nilai atau penganggan hidup bagi remaja. Pendidikan lain yang juga mempunyai pengaruh dan sangat penting bagi perkembangan anak-anak dan remaja kedepan, namun materi ini tidak diajarkan secara serius, misalnya pendidikan financial, kesetaraan gender, kesehatan reproduksi dll. Akibatnya anak-anak dan remaja yang amat cerdas, namun seringkali memandang rendah orang lain atau lawan jenisnya dan kemampuan bersosialisasi dengan teman-teman kurang, kemudian kurang mengetahui dan memahami tentang ilmu-ilmu yang mempunyai pengaruh bagi keberlanjutan hidup bermasyarakat.

Kutub Masyarakat
Kehidupan sehari-hari anak-anak dan remaja juga sangat dipengaruhi oleh keadaan masyarakat sekitarnya, apa yang langsung dilihat dengan keadaan sekitarnya. Pada masa-masa anak menuju dewasa ingin mencoba hal-hal yang ada disekitarnya, apabila seorang anak atau remaja tiak mempunyai pengetahuan dan iman yang kuat maka sangat mudah terjerumus ke hal yang negative.

Kemajuan teknologi dan informasi kehidupan manusia berubah gaya hidupnya, aksi-aksi sex bebas, aborsi, narkoba dan lainnya dipertontonkan. Anak-anak dan remaja cenderung untuk mempermudah kehidupannya atau mengupayakan kemudahan-kemudahan dalam kehidupannya instant. Ditambah lagi dengan berbagai ‘penyakit sosial‘ yang terjadi di masyarakat, seperti: judi, minuman keras, hiburan malam, dll.

Baca Lengkap..

TRANSAKSI KEHIDUPAN

27 Agustus 2009

Salah satu hukum bisnis menyatakan bahwa kualitas keuntungan tidak ditentukan oleh kuantitas aktivitas bisnis tetapi oleh kualitas transaksi. Tidak sedikit orang menciptakan banyak transaksi tetapi kualitas keuntungan didapat tidak sebanyak jumlah transaksi yang diciptakan. Padahal apa yang kita inginkan adalah transaksi sebanyak mungkin dengan keuntungan sebesar mungkin. Transaksi adalah pelaksanaan keputusan dealing tentang tawaran yang kita setujui dan tawaran yang kita ajukan. Selanjutnya transaksi menciptakan harga (price of value).

Pada dasarnya semua orang sudah ditakdirkan hidup dengan ‘business of selling’, terlepas apakah ia pengusaha atau pun orang biasa. Karena takdir itulah, maka sebagian hukum alam yang mengatur kehidupan ini adalah hukum untung rugi. Dalam menyikapi hukum diperlukan kepemilikan sikap mental pengusaha (the entrepreneurship mental attitude). Atau sosok yang bermentalitas 'creating' dan bertanggung jawab atas resiko keputusan yang diambil serta menerima resiko sebagai pemilik.

Terlepas dari job title yang anda sandang saat ini maka anda adalah pengusaha di mana setiap keputusan yang anda ambil, maka andalah yang akan merasakan rugi dan untungnya. Buktinya, setiap saat kita menciptakan transaksi dari tawaran kehidupan. Hanya saja yang sering membuat kita menderita kerugian adalah keputusan transaksi yang tidak didukung dengan mentalitas pengusaha. Banyak sekali komoditas peristiwa hidup yang ditawarkan tetapi tidak kita ciptakan transaksi yang bertanggung jawab untuk memiliki keuntungan dari kerugian atau dari keuntungan.


Hasilnya, kita lebih sering menjadi pengusaha yang rugi. Contoh paling riil adalah kegagalan. Baik terjadi pada orang lain dan diri kita, atau baik disebabkan oleh orang lain atau kesalahan kita, sebenarnya peristiwa ini adalah komoditas yang ditawarkan oleh kehidupan. Kegagalan itu bisa menjadikan kita rugi atau untung. Bukan karena kegagalan ‘as matter’ tetapi karena keahlian bertransaksi. Kita apakan kegagalan itu setelah terjadi. Banyak pengusaha yang bisa menjadikan kegagalan sebagai the moment of truth untuk membangun keuntungan. Sebaliknya tidak sedikit yang menjadikan kegagalan hanyalah kegagalan – komoditas yang merugikan.

Watak Tawaran
Tawaran bisnis memiliki dua watak yang menonjol: menarik (to attract) dan mendorong (to push). Kalau anda pergi ke Mall maka semua komoditas yang dijajakan sudah didesain menarik dan punya daya tarik untuk menggoda kantong anda. Demikian juga kalau anda mengunjungi lokasi pasar kaki lima. Meskipun teknik penjajaan komoditas tidak didesain semenarik apa yang ada di Mall tetapi teknik rayuan dan gertakan yang dijalankan para pedagang di sana mendorong anda untuk membeli seakan-akan anda merasa bersalah kalau tidak membeli tawarannya.

Tidak berbeda dengan komoditas hidup yang ditawarkan kepada anda. Baik orang pintar atau orang bodoh, orang bawah atau orang atas, orang terhina atau orang terhormat mendapatkan peristiwa yang sama. Kegagalan, tantangan, dan kesulitan adalah tawaran yang menarik/mendorong semua orang untuk berpikir negatif dan tidak mau bertanggung jawab apalagi memilikinya. Seakan-akan aib yang memalukan. Perbedaannya adalah apakah anda akan menjadikan semua peristiwa yang tidak diinginkan itu sebagai tawaran yang perlu diciptakan transaksi atau anda bayar langsung.

Ketika anda membayar langsung hanya karena dorongan (being pushed) atau terkesima oleh godaan daya tarik (being attracted), maka kemungkinan paling dekat adalah anda tidak puas atau anda baru bisa mengakui barang yang anda beli tanpa transakis itu berguna setelah barang itu lusuh. Orang terkadang baru sadar ternyata peristiwa yang tidak diinginkan itu berguna setelah peristiwa menelan banyak pengorbanan alias lusuh.

Penyebab Kerugian
Meskipun dunia ini terus berubah, tetapi tidak berbeda dalam satu hal: terjadi perbandingan yang tidak seimbang antara jumlah populasi dunia yang beruntung dan merugi. Survey yang diadakan Hartford company menemukan bahwa dari 100 orang yang disurvey ternyata tidak mencapai 20 orang yang dikategorikan beruntung.
Dengan kemajuan pengetahuan yang datang untuk mencerahkan, memang membuat orang punya lebih banyak pilihan untuk menjadi pengusaha yang beruntung tetapi lagi-lagi semua akan kembali pada kualitas memilih (baca: transaksi). Tekhnologi dan pengetahuan hanyalah memudahkan dan memperbanyak pilihan. Untung-rugi adalah kualitas memilih dari yang kita ciptakan. Wajarlah kalau dikatakan, satu temuan tekhnologi bisa menggantikan pekerjaan ratusan orang biasa-biasa tetapi ratusan tekhnologi tidak akan bisa menggantikan pekerjaan satu orang ahli. Transaksi adalah keahlian dan tidak bisa didelegasikan kepada tehnologi.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kebanyakan kerugian transaksi kehidupan disebabkan oleh hal-hal berikut:
1. Tidak tahu harga / nilai komoditas
Pengusaha yang tidak tahu nilai komoditas akan membuat usahanya tidak untung atau salah menilai harga jual-beli komoditas. Contoh sederhana: buah mengkudu telah bertahun-tahun disia-siakan orang di sejumlah pedesaan di Indonesia. Setelah diketahui kandungan khasiatnya, barulah mengkudu perlu dibudidayakan. Nah, ada sejumlah peristiwa di dalam hidup kita yang bernasib sama dengan buah mengkudu. Kita menganggapnya tumbuhan liar yang perlu disingkirkan. Hanya orang yang telah berhasil lolos dari penyakit yang tahu nilai penyakit dan kesehatan. Hanya orang yang sudah berhasil menciptakan kesuksesan dari kegagalan yang tahu kegagalan bukanlah dosa laknat yang harus dihindari tetapi peristiwa hidup yang kita butuhkan.

2. Tidak tahu Indeks Pasar
Supaya transaksi bisa untung perlu dukungan data, informasi, pengetahuan dan pemahaman tentang harga yang berlaku bagi komoditas tertentu di pasaran. Demikian juga dengan diri kita. Teori apapun tidak berani memastikan berapa jumlah kuantitatif dan kualitatif komoditas yang kita amiliki di dalam untuk ditawarkan kepada kehidupan. Komoditas itu bisa bernilai tinggi sehingga layak disebut aset utama tetapi ada yang bernilai lebih rendah dari komoditas yang dimiliki oleh hewan.

Selama bertahun-tahu militer Amerika dan juga dunia termasuk pendidikan menjadikan IQ sebagai ukuran tunggal untuk menilai kecerdasan seseorang. Begitu EQ ditemukan lalu disusul temuan SQ, maka peta tolok ukur kecerdasan manusia berubah. Ketika indeks pasar sudah berbicara bahwa ternyata perasaan itu berperan penting sementara anda masih berpedoman tidak penting atau tidak tahu kegunaannya, maka telah terjadi pengabaian yang menyebabkan transaksi anda dengan kehidupan ini rugi.

Perkembangan eksplorasi ilmiah itu adalah gambaran bahwa anda tidak sekedar memiliki ketiga kecerdasan tetapi masih banyak yang belum diungkap dan belum digunakan sebagaimana mestinya padahal itu penting. Sekedar gambaran, Charles Handy menulis bahwa di luar pembahasan teori kecerdasan yang ada, manusia masih banyak menyimpan kecerdasan lain yang perlu diasah karena penting, seperti kecerdasan practical, logical, interpersonal, intrapersonal, verbal, dll. Semua keahlian yang anda miliki apabila dicerdaskan akan membuat transaksi untung karena akan didukung dengan akurasi pengetahuan dan keahlian.

3. Tidak menguasai unsur hal tekhnis
Transaksi membutuhkan penguasaan tekhnis baik di bisnis apalagi transaksi harga peristiwa kehidupan yang terjadi. Mungkin bentuknya sangat variatif. Penguasaan tekhnis kalau dirujukkan pada ajaran KOKORO (The heart of warrior) milik Yamaoko (1836-1888) bukan semata bergantung pada gerakan fisik. Yamaoko menulis: "Kalau muatan pikiran anda tidak punya akses-langsung ke tangan anda maka ribuan tehnik yang anda kuasai tidak ada gunanya". Tidak hanya sebatas penguasaan pedang tetapi tombol telephone pun demikian. Apalagi menghadapi orang atau peristiwa.

Ibarat seorang sopir kendaraan. Kalau hanya jasat sopir saja yang mengendalikan kendaraan, maka armada temuan tehnologi manapun tidak akan bisa membantu menghindarkan dari tabrakan. Demikian juga dengan hidup kita. Yang menentukan pada akhirnya bukan atribute eksternal tetapi murni bagaimana diri kita. Fasilitas digunakan untuk memudahkan atau memperindah tetapi kualitas keuntungan transaksi tidak bisa bergantung pada keahlian di bagian luar diri kita. Karena sesungguhnya yang di dalam itulah yang menampilkan apa yang di luar dan menciptakan ke luar.
Apa yang bisa anda lakukan?

Supaya bisa menciptakan transaksi yang menguntungkan, pembelajaran hidup yang perlu dijalani adalah seperti dikatakan Covey: mengasah gergaji. Untuk mengetahui apa saja yang harus anda asah, ada baiknya anda mempertajam gergaji berikut ini:
1. Kepercayaan Diri
Pengusaha yang untung dalam menciptakan transaksi umumnya cakap dalam mengungkap keunggulan komoditas setinggi-tingginya sehingga orang lain percaya. Maka, terciptalah transaksi kepercayaan yang menguntungkan. Tetapi kecakapan itu bukan peristiwa dadakan (dramatic event) melainkan keahlian yang diasah untuk menemukan keunggulan diri (negotiation skill) dan pengetahuan menyeluruh tentang konstelasi komoditas.

Ketika anda menerima peristiwa hidup yang tidak diinginkan, maka untung-rugi sebuah transaksi ditentukan oleh sejauhmana anda percaya bahwa peristiwa itu berharga, dan bahwa nilai yang dikandung di dalamnya bisa anda gunakan. Kalau anda tidak tahu harga dan tidak tahu kegunaanya (keunggulan) maka tawaran yang anda lakukan tidak akurat alias banyak melesetnya. Jadi belajarlan menemukan keunggulan dari semua tawaran peristiwa agar anda tidak menciptakan transaksi hanya karena didorong atau ditarik melainkan murni keputusan berdasarkan pengetahuan fakta optimal.

2. Mentalitas
Belajar pada teori militer, sensitivitas-diri seorang prajurit dibentuk dengan menggembleng doktrin yang membuatnya merasa “BE” (menjadi). Ketika sudah merasa “BE” maka gampang untuk “KNOW”. Ketika sudah “BE & KNOW” maka akan menjalankan “DO”. Demikian pula dengan doktrin pengusaha. Pertama kali adalah tanggung jawab atas resiko, dan kedua, menerima resiko itu dengan rasa memiliki.

Banyak peristiwa hidup yang terjadi begitu saja dan umumnya tidak kita inginkan. Perbedaan “BE pengusaha” dan tidak adalah bagaimana orang menerimanya. Pengusaha akan menerima sebagai materi tanggung jawab untuk diubah menjadi peristiwa yang diinginkan. Sementara orang yang bukan “BE Pengusaha” akan menerima sebagai materi apa adanya atau hanya menjadi bahan mengeluh dan bahan menyalahkan.

Gergaji kedua ini adalah lanjutan dari gergaji pertama. Tidak cukup anda meyakini kandungan makna di dalam setiap peristiwa hidup yang anda terima tetapi perlu mentalitas pengusaha untuk menemukan lalu memberdayakannya sebagai modal untuk melakukan transaksi selanjutnya. Syarat mutlak yang harus anda penuhi adalah tidak membiarkan peristiwa hidup anda dimiliki oleh orang lain melalui proses menyalahkan atau membiarkan. Kalau anda menyalahkan dengan dukungan alasan akurat, mungkin itu benar tetapi yang perlu diingat adalah tanggung jawab memberdayakan makna tidak akan menjadi milik siapa pun kecuali anda sendiri. Ajaran leadership menyatakan tanggung jawab tidak bisa didelegasikan.

3. Kendali
Gergaji ini berfungsi untuk menjalani proses mengasah secara terus-menerus. Kalau harus berhenti niatkan hanya untuk istirahat bukan meninggalkan. Begitu anda mendapat stimuli merugikan segeralah kembali pada predikat pengusaha dengan misi yang anda emban. Tanpa mengasah secara terus-menerus maka perubahan nilai komoditas, indek pasar dan penguasaan tehnis yang anda miliki akan ketinggalan dengan perubahan dunia yang sedemikian rupa. Karena tumpul, akibatnya bisa membuat anda tidak ‘pede’ lagi ketika tawaran transaksi muncul.

Tidak ada pengusaha yang langsung sukses; mendapatkan keuntungan banyak (80%) dari upaya sedikit (20%) dengan menjadi investor. Sebagai muatan mindset (vision), keinginan untuk menjadi investor dengan aplikasi 80:20 jelas sangat dibutuhkan. Hanya saja ketika muatan tersebut harus diimplementasikan dalam sebuah tindakan, maka mengasah gergaji adalah rumusan yang harus dilakukan. Kesuksesan itu seperti kata orang tidak sebagaimana jalan tol melainkan tangga. Kalau anda sudah berhasil menapakaki tangga pertama, logikanya anda berpotensi kuat untuk menaiki tangga kedua, ketiga dan seterusnya. Demikian pula kalau anda sudah bisa menghasilkan keuntungan sedikit. Logikanya anda punya potensi-diri dan peluang untuk menciptakan transaksi dengan keuntungan banyak hanya saja tidak langsung.

Mudah-mudahan bisa anda jadikan bahan bertransaksi menguntungkan.

Baca Lengkap..

Depresi dan Reformasi Diri

23 Juli 2009

Depresi
Apa yang menyebabkan kita sampai menderita depresi? Sejauh depresi itu diartikan sebagai sebuah kondisi batin yang tertekan dalam waktu panjang (stress berkelanjutan) dan mengakibatkan hilangnya harapan hidup, makna hidup, motivasi berprestasi, dan kepercayaan-diri (losing mood and confidence), tentu saja sebab-sebabnya banyak. Namanya juga orang hidup. Realitas kehidupan ini terkadang lebih kejam dari kekejaman yang sanggup kita bayangkan.

Secara garis besar kita bisa mengatakan bahwa depresi bisa terjadi di - “stimulasi” oleh keadaan eksternal yang berubah ke arah yang lebih buruk dan itu di luar kontrol kita. Mengapa di “stimulasi” ? Perlu digarisbawahi di sini, bahwa kondisi emosi – psikologis masing-masing orang turut menentukan apakah sesuatu itu dapat menyebabkan depresi, sejauh mana tingkat depresinya serta seberapa besar kemampuan orang itu untuk mengatasi masalah (hingga tidak sampai depresi) – atau, seberapa besar kemampuan orang itu untuk mengatasi depresinya.

Katakanlah di sini misalnya kematian orang-orang tercinta atau bencana alam yang menyisakan kenangan-kenangan traumatik. Bila ini berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi dan menyebabkan kita kehilangan mood, kehilangan gairah untuk melangkah, kehilangan kepercayaan diri, maka trauma itu berubah menjadi depresi. Kita kehilangan daya tarik untuk menjadikan hidup kita menjadi lebih hidup dan kehilangan semangat untuk menjalankan aktivitas positif.

Depresi juga bisa muncul akibat perlakuan orang lain yang buruk pada kita. Seorang karyawan akan merasa tertekan apabila mendapati kondisi kerja dan gaya manajemen di tempat kerja yang menekan (stressful). Jika dia sudah berusaha untuk mencari pekerjaan lain ke mana-mana namun belum mendapatkan dan ditambah lagi dengan cara yang tidak kreatif dalam menghadapi realitas semacam itu, mungkin saja si karyawan itu akan terkena depresi. Depresi bisa tumbuh dari stress kerja yang berlangsung lama.

Depresi bisa juga terjadi pada seseorang setelah dianiaya orang lain, misalnya pemerkosaan atau kekerasan rumah tangga. Peristiwa buruk itu akan membuka kemungkinan terhadap depresi. Atau juga bisa terjadi pada orang yang sehabis terkena kebijakan PHK. Kehilangan pekerjaan dapat membuat kita stress (kehilangan status, kehilangan sumber penghasilan, dst) dan bila kita sudah mencari pengganti pekerjaan itu kemana-mana dan ternyata belum membuahkan hasil, stress itu akan berubah menjadi depresi. Depresi di sini adalah tekanan batin yang serius ditandai dengan kesedihan dan kekosongan (feeelings of sadness or emptiness).


Depresi juga muncul karena ulah kita sendiri. Ulah di sini ada yang berbentuk penyimpangan/pelanggaran atau ada yang berbentuk pengabaian. Hampir seluruh tindak penyimpangan atau pelanggaran atas apa yang benar di dunia ini dalam skala / ukuran yang besar, umumnya akan melahirkan konsekuensi yang “uncontrollable”.

Bila konsekuensi buruk itu terjadi dan merembet kemana-mana dan semuanya menjadi pilihan buruk buat kita, ini juga bisa menimbulkan depresi. Karena itu banyak penderita NAPZA yang berkesimpulan bahwa kesembuhannya itu berkat mukjizat. Ini karena sedemikian sulitnya membayangkan bagaiman melepaskan diri dari ketergantungan dan dari konsekuensi buruk lainnya yang terkait dengan itu.

Demikian juga dengan pengabaian. Pengabaian terhadap diri sendiri, misalnya punya potensi tetapi tidak dikembangkan, punya pekerjaan tetapi tidak disyukuri (dijadikan lahan untuk meningkatkan diri), punya resource tetapi tidak digunakan, dan lain-lain, ini juga bisa menimbulkan depresi. Jadi, bukan pengabaiannya yang menyebabkan depresi tetapi konsekuensi pengabaian itulah yang membuat orang menjadi depresi. Kita mulai merasa tidak ada artinya bagi diri sendiri dan orang lain. Ketika perasaan ini terus menggunung, ya lama kelamaan akan menimbulkan depresi. Karena itu ada pendapat ahli yang menyatakan bahwa depresi bisa saja terjadi tanpa harus didahului peristiwa buruk yang tragis dan dramatik. Problem personal yang kecil-kecil namun diabaikan bisa saja akan mengundang depresi.

Hindari Tujuh Hal
Meski kita ingin segera dapat mengatasi depresi, tetapi tak jarang kita malah mempraktekkan hal-hal yang memperparah depresi itu. Ini antara lain bisa dijabarkan sebagai berikut:
1. Hanya mencari-cari tip, saran atau tehnik yang jitu untuk mengatasi depresi. Tip dari buku, saran dan tehnik dari orang lain itu sangat kita butuhkan tetapi posisinya di sini bukan sebagai penentu, melainkan sebagai pembantu (bantuan. Kita membutuhkan semua itu tetapi tidak boleh mengandalkan pada semuanya. Artinya, tip dan saran itu akan berguna ketika kita dalam keadaan sedang berusaha untuk mengatasi depresi dan tidak berguna kalau kita duduk dan diam saja.

2. Tidak percaya, menolak atau skeptis terhadap saran, pendapat atau bantuan orang lain. Ini adalah bentuk padanan yang ekstrim dari yang pertama. Menutup diri, menutup-nutupi, melecehkan semua orang atau menjauhi orang kerapkali justru akan membuat kita semakin ‘depressed’ dengan keadaan kita.

3. Hanya menyalahkan keadaan atau orang. Mungkin saja yang membuat kita depresi itu adalah dunia ini yang telalu kejam atau orang lain. Tetapi akan malah berbahaya kalau yang kita ingat dan yang kita lakukan adalah hanya mengutuk dunia dan mengutuk orang lain. Harus ada inisiatif dari dalam diri kita untuk mengobati diri sendiri.

4. Kurang kreatif dalam menemukan cara atau terlalu “taat” pada rutinitas yang biasa-biasa. Ini juga bisa membuat depresi itu makin mendalam. Ada saran agar kita membagi aktivitas menjadi tiga: a) aktivitas positif yang wajib, b) aktivitas yang untuk fun atau pleasurable, dan c) aktivitas yang untuk menabur kebajikan pada orang lain seperti membantu atau menyambung hubungan.

5. Membiarkan munculnya definisi diri negatif, misalnya saja: saya sudah tidak punya apa-apa lagi, saya muak melihat diri saya, hidup saya sudah hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi, dan seterusnya. Ini adalah definisi atau kesimpulan atau label tentang diri sendiri yang kita buat sendiri. Jika ini terus berlanjut akan mempersulit upaya recovery.

6. Menolak realitas dengan cara yang merugikan. Realitas itu kalau ditolak dengan tujuan menolak yang asal menolak (denial), ini akan memperparah pertengkaran yang membuat depresi itu makin mencengkeram. Tetapi bila kita terima dengan pasrah dan kalah (larut dan hanyut), ini juga tidak menyembuhkan. Yang diharapkan adalah menerima untuk memperbaiki. Seperti yang ditulis Dr. Felice Leonardo Buscaglia, “ Trauma yang abadi di adalah penderitaan yang tidak diikuti dengan perbaikan.”

7. Menganut paham perfeksionis yang tidak rasional. Dari pengalaman sejumlah ahli dalam menangai penderita depresi, konon yang menghambat upaya recovery adalah ketika seseorang berpikir bahwa dia harus bebas dari depresi seketika itu dan langsung, tidak usah repot-repot. Mengatasi depresi butuh proses yang berkelanjutan, dan jika kita menolak proses itu bukan malah cepat tetapi malah semakin lama.

Tujuh hal di atas dapat kita gunakan untuk menjelaskan realitas di mana ada orang yang semakin buruk langkahnya, makin buruk hubungannya dan makin buruk caranya dalam menghadapi hidup saat depresi. Anda mungkin punya teman, keluarga atau tetangga yang malah semakin tertutup, semakin tidak persuasif, semakin tidak bijak, semakin sempit, semakin tertutup dan sejumlah “semakin” yang negatif lainnya.

Tetapi ada juga sekelompok orang yang mulai menunjukkan bukti-bukti perbaikan diri, perbaikan hubungan dan perbaikan cara dalam menghadapi realitas. Semakin jelas langkah yang ditempuh, semakin open dan bijak, semakin bisa memilih orang, semakin ramah, semakin soleh hidupnya, dan seterusnya. Sebisa mungkin kita perlu berjuang untuk menjadi manusia kelompok kedua.

Agenda Reformasi
Secara umum, agenda reformasi itu bisa kita buat berdasarkan poin-poin berikut ini:
1. Membangun citra diri positif
Citra diri berasal dari bagaimana kita menyimpulkan diri sendiri atau beropini tentang diri sendiri. Yang positif membuahkan citra positif. Untuk membangun yang positif ini diperlukan tiga hal:
1). Anda perlu menciptkan definisi, opini atau kesimpulan yang positif
2). Anda perlu melawan munculnya opini, definisi atau kesimpulan negatif dengan cara menghentikan, mengganti atau membatalkan
3). Anda perlu menciptakan alasan-alasan faktual, bukti nyata untuk mendukung kesimpulan positif yang Anda ciptakan

Sedikit tentang alasan faktual itu, saya ingin memberi contoh misalnya saja Anda berkesimpulan bahwa hidup Anda memang masih bermakna (untuk diri sendiri dan untuk orang lain). Kesimpulan ini lebih positif ketimbang Anda punya kesimpulan yang sebaliknya. Tetapi jika yang Anda lakukan hanya sebatas merasa atau menyimpulkan (tanpa diiringi dengan perbuatan dan hasil atau pembuktian bertahap), lama kelamaan kesimpulan Anda ini akan kalah oleh fakta yang ada tentang diri Anda. Jangan pernah berpikir bahwa perbaikan diri itu bisa ditempuh dengan cara tidak melakukan sesuatu. Forget it.

2. Menjalankan agenda perbaikan berkelanjutan yang realistis
Kesalahan kita saat terkena depresi adalah: kita hanya merasakan bagaimana depresi itu tetapi kurang berpikir tentang apa saja yang masih bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri di masa depan. Kita tenggelam ke dalam masa lalu yang buruk dan lupa meng-imajinasi-kan masa depan yang lebih bagus. Padahal, masa lalu itu sudah tidak bisa diubah. Padahal, masa depan itu masih “open” buat kita. Agar ini tidak terjadi, Anda boleh memilih agenda perbaikan di bawah ini:
a. Anda merencanakan program atau jadwal tentang apa yang perlu anda lakukan dan apa yang perlu Anda hindari agar hidup Anda menjadi lebih bagus di hari esok berdasarkan keadaan Anda.
b. Anda mencanangkan target yang benar-benar ingin Anda raih sebagai bukti adanya perbaikan dalam diri Anda, misalnya mendapatkan pekerjaan, mendapatkan orang yang lebih bagus, mendapatkan tempat yang lebih bagus, dan seterusnya.
c. Anda merumuskan tujuan jangka pendek atau panjang yang ingin Anda wujudkan, seperti misalnya menyelesaikan kuliah, meningkatkan penguasaan bidang, menambah pengetahuan atau skill, dan lain-lain

Tiga hal di atas perlu dilakukan dengan catatan harus realistis: bisa dilakukan dari mulai hari ini, dengan menggunakan sumber daya yang sudah ada, dan dari lokasi hidup di mana Anda saat ini berada. Hindari membuat program atau target yang “mengkhayal” atau hanya berfantasi atau terlalu tinggi sehingga tidak bisa dilakukan dan tidak bisa diraih.

3. Menggunakan ketidakpuasan
Saat depresi, pasti kita tidak puas dengan hidup kita. Ini bisa positif dan bisa negatif, tergantung bagaimana kita menggunakan. Bagaimana supaya bisa positif? Salah satu caranya adalah dengan menggunakan ketidakpuasan itu sebagai dorongan / motivasi unntuk melakukan sesuatu (menjalankan program, meraih target atau tujuan). Anda bisa menggunakan ketidakpuasan atas masa lalu dan hari ini sebagai pemacu untuk memperbaiki atau mengubah hari esok. Jika PHK telah membuat Anda depresi, jadikan itu sebagai motivasi untuk memperluas jaringan, memperbaiki skill, membangun karakter yang lebih positif, dan seterusnya. Ini jauh lebih positif ketimbang kita hanya merasakan depresi, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang lain.

4. Memperbaiki / memperluas hubungan
Wilayah hubungan yang perlu diperbaiki adalah: a) hubungan dengan diri sendiri: control diri, meditasi, dialog diri, dll, b) hubungan dengan orang lain dan c) hubungan dengan Tuhan (meningkatkan iman). Memperbaiki hubungan dengan diri sendiri akan membuat kita cepat mengontrol atau menarik diri dari keadaan yang tidak menguntungkan kita. Kalau kita sadar bahwa kita sedang depresi dan sadar bahwa kita harus segera mengambil tindakan, tentunya ini akan beda persoalannya.

Memperbaiki hubungan dengan manusia akan membantu usaha yang kita lakukan dalam mengatasi depresi. Kita tetap harus ingat bahwa manusia itu bisa digolongkan menjadi dua: a) ada manusia yang menjadi sumber depresi buat kita, dan b) ada manusia yang menjadi bantuan solusi atas depresi. Yang kita butuhkan (sebanyak-banyaknya) adalah manusia kelompok kedua. Jangan sampai kita menjauhi semua manusia, trauma kepada semua manusia, atau tidak percaya pada semua manusia.
Bagaimana memperbaiki hubungan dengan Tuhan? Ada banyak cara untuk memperbaikinya, antara lain: a) meningkatkan iman, b) menjalankan ajaran agama yang kita pilih (formal dan non-formal) sampai benar-benar kita merasa dan meyakini ada semacam “kebersamaan”. Kebersamaan di sini bukan kebersamaan yang “halusinasi” (tidak berdasar dan tidak berefek), tetapi kebersamaan yang mendorong kita untuk melakukan hal positif dan menghindari hal negatif. Kebersamaan seperti ini akan memperkuat dan mencerahkan.

5. Mengganti paham “perfection” menjadi “excellence”
Dengan bahasa yang sederhana dapat dijelaskan bahwa perfection adalah menuntut kesempurnaan (dari orang lain, dari diri sendiri dan dari dunia ini). Sementara, excellence adalah mengusahakan kesempurnaan secara bertahap, perbaikan berkelanjutan. Perfection lebih dekat pada keyakinan yang tidak rasional. Keyakinan seperti ini lebih mudah terkena depresi pada saat kita ingin mengatasi depresi, misalnya saja kita tidak mau gagal lagi (kemungkinan untuk gagal itu selalu ada), kita anti toleransi terhadap kelemahan orang lain (semua orang punya kelemahan), dan seterusnya.

Menurut Susan Dunn, MA, (When Perfect Isn't Good Enough, www.selfgrowth.com, perfeksionis dapat mengakibatkan hal-hal buruk yang antara lain adalah: a) dapat mengantarkan kita pada isolasi diri, b)dapat mengantarkan kita menjadi orang yang takut menghadapi resiko hidup, c) dapat mengantarkan kita pada kesulitan dalam membuat keputusan atau sasaran hidup yang tepat, d) dapat mengantarkan kita pada kesalahan dalam menilai diri (overestimate), e) dapat mengantarkan kita menjadi orang kerdil yang sulit mempercayai orang lain.

Semoga membantu …

Baca Lengkap..

Menemukan-kenali Hambatan Kreatifitas

25 Juni 2009

Siapa bilang kreativitas hanya milik para seniman? Siapa bilang kreativitas hanya milik orang muda? Siapa bilang orang sukses saja yang kreatif?

Menurut Carol K Bowman (Creativity in Business), setiap orang memiliki kreativitas. Bahkan, mereka yang sudah di atas 45 tahun sekalipun masih dianugerahi kemampuan untuk menjadi kreatif. Pendeknya, selama otak masih berfungsi, kreativitas masih mengalir dalam diri seseorang. Lalu, jika demikian mengapa banyak orang belum mampu memanfaatkan kreativitas mereka secara optimal?

Ternyata ada banyak hambatan untuk menjadi kreatif, 7 diantaranya dapat Anda simak disini. Kenali hambatan-hambatan tersebut, siapa tahu beberapa diantaranya dapat Anda temukan disini? Lalu ambilah strategi dan tindakan untuk mengasah kembali daya kreativitas Anda.

Hambatan 1: Rasa Takut
"Mengapa kamu tidak mencoba cara baru saja untuk menyelesaikan pekerjaan ini dengan lebih cepat?" "Ah, saya takut gagal. Kalau saya gagal atau salah,saya pasti dimarahi, bos! Jadi lebih baik saya kerjakan saja sesuai dengan yang diperintahkan." Yah, rasa takut gagal, takut salah, takut dimarahi, dan rasa takut lainnya sering menghambat seseorang untuk berpikir kreatif. Tahukah Anda bahwa Abraham Lincoln sebelum menjadi presiden, berkali-kali kalah dalam pemilihan sebagai senator dan juga presiden? Tahukah Anda bahwa SpenceSilver (3M) yang gagal menciptakan lem kuat, akhirnya menemukan `post-it'notes?

Hambatan 2: Rasa Puas
"Mengapa saya harus coba sesuatu yang baru? Dengan begini saja saya sudah nyaman." "Saya sudah sukses. Apa lagi yang harus saya cemaskan?" Ternyata bukan masalah saja yang bisa menjadi hambatan. Kesuksesan, kepandaian dan kenyamananpun bisa jadi hambatan. Orang yang sudah puas akan prestasi yang diraihnya, serta telah merasa nyaman dengan kondisi yang dijalaninya seringkali terbutakan oleh rasa bangga dan rasa puas tersebut sehingga orang tersebut tidak terdorong untuk menjadi kreatif mencoba yang baru, belajar sesuatu yang baru, ataupun menciptakan sesuatu yang baru.

Apple Computer yang pernah menjadi nomor satu sebagai produsen komputer, pernah tergilas oleh para pemain baru di industri ini karena Apple telah terpaku pada keberhasilannya sebagai yang nomor satu, sehingga menjadi lengah untuk menawarkan sesuatu yang baru pada target pasar sampai perusahaan ini terhenyak dengan munculnya pesaing yang berhasil menggeser kedudukan Apple. Namun, belajar dari kesalahan, Apple berusaha bangkit kembali dengan produk-produk baru andalan mereka.


Hambatan 3: Rutinitas Tinggi
"Coba-coba yang baru? Aduh mana sempat? Pekerjaan rutin saja tidak adachabis-habisnya." Apakah kalimat ini pernah Anda ucapkan? Jika ya, berarti rutinitas pernah menjadi hambatan bagi Anda untuk memanfaatkan kemampuan Anda untuk berpikir kreatif. Mungkin Anda perlu menyisihkan waktu khusus untuk mengisi `kehausan' Anda akan kreativitas, misalnya baca buku tiap minggu (anda bisa menemukan ide brilian yang bisa Anda adaptasi, atau perbaiki), perluas lingkungan sosial Anda dengan mengikuti perkumpulan-perkumpulan di luar pekerjaan Anda (siapa tahu Anda bertemu dengan orang-orang yang bisa mendukung Anda ke jenjang sukses). Tahukah Anda bahwa Mariah Carey sengaja menyisihkan waktu dari kegiatan rutinnya sebagai penyanyi latar untuk memperluas pergaulannya? Mariah berusaha masuk kelingkungan pergaulan para petinggi di dunia musik internasional sebelum akhirnya bertemu dengan produser musik yang bersedia mensponsori album pertamanya yang langsung menjadi hit dunia?

Hambatan 4: Kemalasan Mental
"Untuk mencoba yang baru berarti saya harus belajar dulu. Aduh, susah.Terlalu banyak yang harus saya pelajari. Biar yang lain saja yang belajar." "Memikirkan cara lain? Wah, sekarang saja sudah banyak yang harus saya pikirkan. Lagipula memikirkan cara baru bukan tugas saya, biarlah atasan saya saja yang memikirkannya." Ini merupakan beberapa contoh kemalasan mental yang menjadi hambatan untuk berpikir kreatif. Tidak heran jika orang yang malas menggunakan kemampuan otaknya untuk berpikir kreatif sering tertinggal dalam karir dan prestasi kerja oleh orang-orang yang tidak malas untuk mengasah otaknya guna memikirkan sesuatu yang baru, ataupun mencoba yang baru.

Tahukah Anda bahwa Thomas Alva Edison tidak berhenti berusaha untuk memikirkan cara yang lebih baik dari eksperimen sebelumnya sampai puluhan kali sebelum akhirnya ia menemukan lampu pijar? Bayangkan apa yang akan terjadi jika pada kegagalan pertama, Edison malas berpikir untuk mengasah kreativitasnya dan melanjutkan ke eksperimen-eksperimen berikutnya?

Hambatan 5: Birokrasi
"Saya bosan menyampaikan ide lagi. Ide saya yang enam bulan lalu saya sampaikan, belum ada kabarnya apakah diterima atau tidak?" Seringkali karyawan atau pelanggan mengeluh karena ide atau usulan mereka tidak ditanggapi. Hal ini bisa saja terjadi karena proses pengambilan keputusan yang lama, atau karena proses birokrasi yang terlalu berliku-liku. Kondisi seperti ini sering mematahkan semangat orang untuk berkreasi ataupun menyampaikan ide dan usulan perbaikan.

Biasanya semakin besar organisasi, semakin panjang proses birokrasi,sehingga masalah yang terjadi di lapangan tidak bisa langsung terdeteksi oleh top management karena harus melewati rantai birokrasi yang panjang. Belajar dari pengalaman dan hasil studi di bidang manajemen, banyak organisasi dunia yang sekarang memecah diri menjadi unit-unit bisnis yang lebih kecil untuk memperpendek birokrasi agarbisa lebih gesit dalam berkreasi menampilkan ide-ide segar bagi parapelanggan ataupun dalam kecepatan mendapatkan solusi.

Hambatan 6: Terpaku Pada Masalah.
Masalah seperti kegagalan, kesulitan, kekalahan, kerugian memang menyakitkan. Tetapi bukan berarti usaha kita untuk memperbaiki ataupun mengatasi masalah tersebut harus terhenti. Justru dengan adanya masalah, kita merasa terdorong untuk memacu kreativitas agar dapat menemukan cara lain yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif.

Tahukah Anda bahwa Colonel Sanders menghadapi kesulitan dalam menjual resep ayam goreng tepungnya? Namun, ia tidak terpaku pada kesulitan tersebut, ia memanfaatkan kreativitasnya sampai akhirnya ia mendapat ide untuk menggunakan sendiri resep tersebut dengan mendirikan restoran cepat saji dengan menu utama ayam goreng tepung. Idenya ini terbukti manjur membukukan suksesnya sebagai salah satu pebisnis waralaba terbesar di dunia.

Hambatan 7: "Stereotyping"
Lingkungan dan budaya sekitar kita yang membentuk opini atau pendapat umum terhadap sesuatu (stereotyping) bisa juga menjadi hambatan dalam berpikir kreatif. Misalnya saja pada zaman Kartini, masyarakat menganggap bahwa sudah sewajarnyalah jika wanita tinggal di rumah saja, tidak perlu pendidikan tinggi, dan hanya bertugas untuk melayani keluarga saja, tidak usah berkarir di luar rumah. Apa jadinya jika wanita-wanita hebat seperti Kartini, Dewi Sartika, Tjut Njak Dhien menerima saja semua pandangan umum yang berlaku di masyarakat saat itu?

Mungkin Indonesia tidak akan pernah menikmati jasa yang diperkaya oleh keterlibatan para wanita profesional, misalnya: mendapatkan layanan dokter wanita, menikmati kreasi arsitek dan seniman wanita, mendapatkan hasil didikan guru wanita, mengirim diplomat wanita sebagai duta Indonesia, atau bahkan dipimpin oleh seorang presiden direktur, bahkan presiden (pimpinan negara) wanita.

Kreativitas memang masih harus ditunjang dengan senjata sukses lainnya. Tetapi, orang yang memiliki dan bisa mengoptimalkan kreativitas mereka bisa menggeser mereka yang tidak memanfaatkan kreativitas mereka. Lalu, bagaimana jika Anda mengalami hambatan untuk mengoptimalkan kreativitas Anda? Tidak perlu panik. Kenali hambatannya, atasi, dan ambil tindakan untuk mengasah kembali kreativitas Anda. Kreativitas itu ibarat sebuah intan, semakin diasah semakin berkilau. Jadi sudah siapkah Anda untuk membuat kreativitas Anda agar semakin berkilau?

Baca Lengkap..

Melangkah Dengan Kepastian

09 Juni 2009

Manusia menjalani hidup hari lepas hari selalu menghadapi kenyataan yang tak menentu, Tak ada satu pun bisa berkata kita akan memilih sesuatu yang baik atau tidak baik, Segala sesuatu pasti dijalani dengan perasaan senang atau tidak senang, Saat timbul masalah, sakit, atau kematian tak ada seorangpun yang bisa menolak kehadirannya,Sehebatnya manusia pasti harus menerima kenyataan yang datang pada dirinya.

Bagaimana perasan hati ini saat menghadapi kenyataan yang sepertinya tidak kita harapkan? Apakah akan timbul kemarahan, kekecewaan, putus asa atau syukur menerimanya, Semuanya tergantung dari seberapa kita menyadari akan arti hidup ini.

Bila selama ini hanya memandang hidup sebagai perkara yang kebetulan,Maka hidup ini akan dijalani dengan biasa saja dan penuh penyesalan. Namun bila disadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada maksud dan tujuannya, Maka pengharapan

Keputusan apakah yang harus kita pilih dalam menghadapi kenyataan hidup ini?
Karena semua putusan yang diambil pasti mempengaruhi keadaan kita selanjutnya,
Dan semua keputusan yang diambil selalu membutuhkan keberanian untuk menghadapi segala kenyataan dan resikonya.

Tapi, apakah ada keberanian dalam hati ini menghadapi kenyataan yang muncul?
Dan dari manakah keberaniaan timbul dalam hidup kita? pasti akan timbul dalam diri manusia.
Ya..Matahari ada karena memang kehendakNya ia harus muncul dan menerangi bumi ini.

Keberanian seperti apa yang harus kita miliki menghadapi keadaan ini?
Marilah kita menyadari bahwa PenciptaMu selalu berlaku baik, KehendakNya menginginkan manusia hidup memiliki masa depan, Berbekal pengertian ini akan timbul keberanian percaya bahwa kita tidak kebetulan hidup.

Pastinya Dia memberikan kemampuan untuk kita menjadi berhasil,
Apabila kita mau menyandarkan hidup ini dengan selalu bersyukur kepadaNya,
Dan kita akan dapat melihat pengharapan selalu muncul dalam setiap keadaan kita,
Jika kita percaya bahwa segala sesuatu dijadikanNya untuk suatu maksud yang mulia,
Karena itu, beranilah melangkah tanpa keraguan sebab PenciptaMu senantiasa bersamamu.

Baca Lengkap..