Tampilkan postingan dengan label Sosial Kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan

04 Desember 2017

TANTANGAN, MASALAH DAN SOLUSI PERLINDUNGAN ANAK

PENDAHULUAN
Anak adalah titipan Tuhan yang harus dilindungi, agar tercapai masa pertumbuhan dan perkembangannya menjadi seorang manusia dewasa sebagai keberlanjutan masa depan bangsa. Anak bukan orang dewasa ukuran kecil, tetapi seorang manusia yang tumbuh dan berkembang mencapai kedewasaan sampai berumur 18 tahun termasuk anak dalam kandungan. Mereka memiliki posisi strategis karena jumlahnya 34 persen dari total penduduk Indonesia.

Negara mempunyai tugas dan tanggung jawab yang penting dalam mendorong perlindungan dan pengawasan anak, agar tidak terjadi kekerasan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum. Kemudian, masyarakat juga mempunyai peran penting dalam perlindungan dan pengawasan anak-anak. Agar segala kegiatan anak-anak dan hak-haknya untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat dapat terpenuhi. Serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi di sekitar tempat tinggalnya. Disamping itu, Keluarga mempunyai peran penting dalam perlindungan anak.

Berdasarkan data kekerasan anak yang diambil dari http://thetanjungpuratimes.com per 31 Desember 2016, Kasus kekerasan terhadap “Sepanjang tahun 2016 saja, jumlah kasus yang diterima KPAID Kalbar sebanyak 88 kasus, 94,57% diantaranya bisa terselesaikan, sisanya 5,43 persen masih dalam proses penyelesaian. Pengaduan kasus anak lima tahun terakhir sampai tahun 2016 cendrung meningkat. Pada tahun 2011 sebanyak 39 kasus, tahun 2012 berjumlah 55 kasus, tahun 2013 ada 56 kasus. Sementara pada tahun 2014 jumlah pengaduan masih meningkat yaitu 83 kasus, tahun 2015 juga mengalami peningkatan menjadi 106 kasus, sedagkan tahun 2016 ada 88 kasus. Untuk itu, perlu adanya tindakan yang terintegrasi dengan semua instansi / lembaga dan semua lapisan di masyarakat. Serta untuk pelaksana kegiatan perlu dukungan tenaga yang handal dan profesional.


TANTANGAN PERLINDUNGAN ANAK
Ada beberapa hal yang menjadi tantangan terkait dengan perlindungan anak kedepan, diantaranya :
1. Pendataan dan pemantauan anak serta kondisi geografis Koordinasi lintas sektor di pemerintahan sampai ketingkatan yang paling bawah, mempunyai pengaruh dalam hal pendataan dan pemantauan anak-anak dari tindak kekerasan, anak berkebutuhan khusus dan ekspolitasi anak. Diperlukan kualitas dan kuantitas tenaga kerja pendataan dan pemantaauan. Ditambah lagi kondisi geografis yang relatif sulit dan jauh, kesiapan fisik tenaga pendata dan pemantau agar anak-anak yang dipedalaman dapat terdata dan terpantau.

2. Orang tua dan pola asuh anak Seiring dengan kesibukan orang tua ditempat kerja, bisa berdampak pada pola asuh anak yang buruk. Anak bisa mejadi diluar kontrol orang tua terhadap apa yang dikonsumsinya untuk pemenuhan gizi dan anak rawan berprilaku melanggar hukum seperti : pergaulan bebas dan merokok serta menggunakan obat-obatan terlarang (NAPZA). Sehingga orang tua anak perlu menjadi perhatian serius

3. Media sosial Kebebasan media sosial sekarang ini, disatu sisi bisa mempermudah komunikasi dan bisa menambah pengetahuan. Namun disisi lain, media sosial yang ada bisa menjadi masalah karena kurangnya atau bahkan tidak adanya lembaga sensor. Sehingga dikuatirkan anak-anak bisa dengan mudah mencontoh apa yang dilihat dimedia sosial, baik perilaku kekerasan maupun pornografi. Untuk itu, perlu tindakan yang tegas terhadap lembaga/perseorang yang menyiarkan dan penguatan di lembaga sensor negara.

4. Kemiskinan Ekonomi keluarga cukup berperan penting dalam tumbuh-kembang anak, baik itu pada pemenuhan gizi, maupun eksploitasi anak untuk bekerja. Peningkatan ekonomi kelaurga perlu kerjasama lintar sektor atau instansi terkait, sehingga ada perbaikan ekonomi keluarga.

5. Pelibatan Anak berkampanye Pesta demokrasi baik PILKADA, PILPRES dan Pemilihan Legislatif sebentar lagi di Kalimantan Barat, walaupun sudah ada aturan tentang berkampanye. Namun dikuatirkan akan terjadi pelanggaran dengan melibatkan anak-anak dalam aktivitas berkampanye oleh para pendukung. Untuk itu, perlu adanya komitmen bersama dengan partai politik maupun pasangan calon, agar tidak melibatkan anak-anak dalam aktivitas berkamanye.

6. Penerapan UU Perlindungan Anak Masih kurangnya jumlah personil dan diperlukan tenaga yang handal dan profesional dalam pelaksanaan UU Perlindungan Anak. Juga diperlukan kemampuan berkoordinasi dengan lembaga lintas sektor/instansi, sehingga pelaksanaan pelayanan dan penerapan UU Perlindungan Anak dapat berjalan dengan baik.

MASALAH PERLINDUNGAN ANAK
Berbagai permasalahan terkait dengan perlindungan anak, diantaranya :
1. Pemenuhan Hak Sipil Akta kelahiran merupakan hak dasar setiap anak yaitu hak atas pengakuan sah suatu negara terhadap keberadaannya. Basis hak ini tidak hanya berdasarkan pertimbangan status kewarganegaraan, tetapi terkait erat dengan pendataan dan aspek proteksi berlangsungnya tumbuh kembang anak dalam setiap fase perkembangan.

2. Keluarga dan Pengasuhan Alternatif Pengasuhan alternatif di dominasi oleh kasus-kasus yang berakar dari kerentanan keluarga baik rentan secara ekonomi, sosial, kemasyarakatan dan religiusitas keagamaan, misalnya : 1). Penelantaran 2). Perebutan Hak Kuasa Asuh Anak, 3). Angka perkawinan dini masih tinggi, 4). Perwalian dan Pengangkatan Anak. 5). Rendahnya Kualitas Lembaga Pengasuhan Alternatif.

3. Kesehatan Dan Kesejahteraan Dasar Persoalan dibidang kesehatan dan kesejahteraan dasar pada anak-anak, mulai dari 1). Gizi Buruk, 2). Pelayanan kesehatan yang masih rendah, 3). Anak korban Narkoba dan HIV/AIDS, 4). Rokok dikalangan anak dan remaja meningkat terus setiap tahunnya, 5). Pemberian ASI pada bayi masih rendah.

4. Pendidikan Minimnya sarana dan prasarana pendidikan, masih banyak ditemukan sekolah dengan kondisi bangunan tidak layak pakai dan minim sarana serta prasarana pendukung lainnya. Faktor geografis menjadi sebab sulitnya penyebaran layanan pendidikan yang baik, seperti di daerah terpencil dan pedalaman masih memiliki akses yang kurang terhadap pendidikan. Kemudian, kesadaran orang tua masih rendah, untuk pendidikan anak. Hal ini disebabkan oleh Rendahnya tingkat pendidikan orangtua. Ditambah lagi tuntutan ekonomi menjadikan orang tua lebih senang jika anaknya ikut membantu menopang kebutuhan ekonomi keluarga disbanding harus duduk manis di sekolah.

Ujian Nasional (UN) juga telah menjelma menjadi bentuk kekerasan psikis terhadap anak. Tidak sedikit anak yang stress, jatuh sakit, bahkan bunuh diri saat menghadapi UN. Kekerasan dilingkungan pendidikan, seperti MOS dan tawuran antar pelajar, walaupun beberapa tahun terakhir di Kalimantan Barat ini jarang terjadi. Namun ini perlu juga menjadi perhatian bersama, agar nanti smakin lebih baik lagi.

5. Perlindungan Khusus - Pornografi dan kekerasan seksual sangat rawan terhadap anak-anak, apalagi sekarang ini media sosial banyak menayangkan pornografi, karena masa anak-anak sulit dihapus dari memorinya. Sehingga dapat mengganggu tumbuh kembang anak, khususnya perusakan terhadap sistem hormonal dalam tubuh anak. Sering kali akan-anak ada keinginan atau menirukan adegan yang ada dalam gambar/video tersebut. Dan akhirnya sering melakukan tindak kriminalitas dalam masyarakat seperti pelecehan seks, perkosaan, maupun eksploitasi seks bermotifkan ekonomi. - Trafficking (Perdagangan Manusia). Kerja Paksa Seks & Eksploitasi seks; Pembantu Rumah Tangga (PRT), buruk pekerja anak di pabrik, restoran, industri cottage, atau toko kecil; Penari, Penghibur & Pertukaran Budaya; Pengantin Pesanan; trafficking/penjualan Bayi; Eksploitasi Organ Tubuh, Pengambilan bagian organ tubuh untuk anak di jual.

SOLUSI PERLINDUNGAN ANAK
Ada beberapa solusi untuk perlindungan anak di Kalimantan Barat, diantaranya :
1. Pemerintahan (Eksekutif), Legislatif juga Yudikatif memberi dukungan serius, berupa : desakan politik, penciptaan anggaran pelaksanaan UU Perlindungan anak, dan hukum yang peka terhadap perlindungan anak mutlak diperlukan.

2. Sosialisasi dan diseminasi UU Perlindungan Anak di tengah masyarakat dan keluarga termasuk usaha dan penegak hukum harus terus ditingkatkan. Melalui itu diharapkan para pihak sadar dan dapat meningkatkan perlindungan bagi anak dan menghindari pelanggaran terhadap hak anak karena bertentangan dengan hukum yang berlaku.

3. Mengoptimalkan rangkaian pelayanan perlindungan anak di tingkat masyarakat dimulai dari pencegahan primer dan sekunder, sampai layanan penanganan tersier. Layanan pencegahan primer bertujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat secara menyeluruh dalam pengasuhan anak dan memastikan keselamatan mereka. Layanan ini meliputi kegiatan-kegiatan yang mengubah sikap dan perilaku, memperkuat keterampilan orangtua, dan menyadarkan masyarakat tentang dampak yang tidak diinginkan dari kekerasan terhadap anak.

Layanan pencegahan sekunder atau layanan intervensi dini difokuskan pada keluarga dan anak-anak yang beresiko, dilakukan dengan mengubah keadaan sebelum perilaku kekerasan menimbulkan dampak buruk secara nyata terhadap anak-anak, misalnya melalui konseling dan mediasi keluarga serta pemberdayaan ekonomi. Intervensi tersier menangani situasi dimana anak sudah dalam keadaan krisis sebagai akibat kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi, penelantaran, atau tindakan-tindakan buruk lainnya.

4. Peningkatan kapasitas pemantauan dan sistem data. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten perlu mengembangkan seperangkat indikator yang disepakati, standar terkait dan pendekatan pengukuran kekerasan terhadap anak. Sehingga ada data yang akurat dan menjadi bahan untuk membuat rencana strategis dalam pencegahan dan penangganan kekerasan terhadap anak.

5. Kegiatan bersama antar anak-anak, seperti Jambore atau pelatihan-pelatihan anak-anak, mulai tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi perlu dilakukan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman anak-anak terhadap hak-haknya, meningkatkan interaksi anak-anak dari berbagai kalangan dan memberikan peringatan dini terhadap potensi kekerasan terhadap anak-anak.

28 Mei 2016

GENERASI SEHAT CERDAS

ASPEK KESEHATAN
Untuk mencetak generasi penerus yang sehat dan cerdas sangat ditentukan oleh kualitas perhatian orang tua terutama pada ibunya, serta pada bayi dan balita. Alasanya bahwa pada periode 1000 hari pertama kehidupan yaitu ketika janin berusia 270 hari dalam kandungan dan bayi berusia 730 hari setelah lahir merupakan periode emas (golden periode). Disebut sebagai periode emas karena pada masa ini terjadi pembentukan sel tubuh dengan pesat diantaranya pembentukan sel otak dan perkembangan unsur kecerdasan seperti pendengaran, penglihatan, kontrol emosi, kebiasaan untuk merespon, kemampuan bahasa, pengenalan simbol, kepandaian bersosialisasi, dan pengenalan angka. Perhatikan gambar diagram ukuran kecerdasan.

Pada gambar terlihat perkembangan beberapa ketrampilan pembentuk kecerdasan seperti pengenalan angka, kepandaian bersosialisasi, pengenalan simbol dan lainya berkembang dengan pesat sejak lahir hingga puncaknya pada umur 2 tahun (24 bulan). Setelah umur 2 tahun mulai ada penurunan kecepatan perkembangan kepandaian. Sering pada periode ini disebut sebagai masa kritis, karena kegagalan pertumbuhan pada periode ini bersifat permanen, artinya tidak dapat diperbaiki lagi.

Secara alami, fisik wanita harus berperan melakukan proses reproduksi, dimana terdapat sejumlah permasalahan yang berisko pada kematian dapat terjadi pada proses ini.

Fisik bayi  dan balita sedang  dalam masa pertumbuhan sehingga fungsi tubuh belum bekerja optimal. Kondisi ini rentan terhadap perubahan lingkungan yang tidak baik.

Pada aspek sosial  budaya  dibeberapa daerah, keberadaan wanita dan anak-anak pada posisi lemah; dimana sering tidak memiliki hak untuk membuat keputusan. Diantaranya hak memilih untuk mendapatkan layanan kesehatan agar jiwanya terselamatkan. Sebagai contoh disuatu daerah ada budaya ketika  menentukan ibu hamil harus dirujuk ke rumah sakit harus diputuskan oleh tetua adat atau orang tertua dalam keluarga besar tersebut. Si Ibu hamil yang sedang menderita tidak punya hak untuk menentukan untuk segera bisa dibawa ke rumah sakit.

Pada keluarga miskin keberadaan ibu dan anak biasanya adalah yang paling menderita, dibandingkan dari si-ayah sebagai kepala keluarga, sehingga hampir tidak bisa mendapatkan pemenuhan kebutuhan yang memadai.

ASPEK PENDIDIKAN
Kemudian dari segi Pendidikan, dalam HAM dan UUD 1945 dinyatakan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,berhak mendapat pendidikan dan mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan dan tehnologi seni dan budaya, untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Kemiskinan karena tingkat pendidikan orang tua rendah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal sehingga anak mengalami putus sekolah. Banyak sekali Faktor yang menjadi penyebab anak mengalami putus sekolah, diantaranya yang berasal dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan karena malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban biaya sekolah.

Ketidakmampuan ekonomi keluarga dalam menopang biaya pendidikan yang berdampak terhadap masalah psikologi anak sehingga anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik dalam pergaulan dengan teman sekolahnya. Keadaan status ekonomi keluarga  miskin cenderung timbul berbagai masalah yang berkaitan dengan pembiayaan hidup anak, sehingga anak sering dilibatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga merasa terbebani dengan masalah ekonomi ini sehingga mengganggu kegiatan belajar dan kesulitan mengikuti pelajaran.

Ada beberapa Identifikasi masalah dan solusinya untuk mengatasi masalah anak belum sekolah dan mengatasi anak putus sekolah.
No
Masalah
Solusi
1
Sekolah terlalu jauh
ü  Bantuan/subsidi biaya transportasi ke sekolah
ü  Penyediaan angkutan pedesaan untuk antar jemput anak sekolah
ü  Orang tua bersukarela sebagai kelompok pengawal yang menyertai anaknya ke sekolah
ü  Penyediaan asrama atau tempat tinggal bagi para siswa yang tinggal jauh dari Sekolah
ü  Membuat sekolah penyetaraan di desa seperti; SMP terbuka, kelas jarak jauh
2
Orang tua tidak mampu menyekolahkan
ü  Sosialisasi atau penyuluhan yang intensif untuk membangun kesadaran orang tua atau masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan merupakan hak dari setiap anak
ü  Perubahan periode pembayaran biaya sekolah, misalnya bisa diangsur, memberikan keringanan
ü  Beasiswa pendidikan, pembayaran biaya siswa yang tertunggak
ü  Penyediaan buku-buku pelajaran dan peralatan sekolah
ü  Kebijaksanaan seragam sekolah  yang lebih fleksibel, misalnya
ü  Jumlah seragam yang diperlukan dievaluasi kembali
ü  Memberikan subsidi seragam bagi anak-anak dari keluarga miskin
ü  Mengusahakan seragam dari pakaian bekas yang masih layak pakai
3
Anak harus bantu orang tua di rumah atau bekerja
ü Beasiswa/subsidi bagi anak anak yang telah menyelesaikan SD untuk meneruskan ke SMP
ü Jika memang menjadi kebiasaan di masyarakat, maka kalender akademik bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada, misalnya jam sekolah disesuaikan
4
Anak sering sakit
ü Pemberian makanan tambahan yang bergizi kepada siswa
ü Mengadakan pemeriksaan kesehatan siswa secara berkala. Namun sebelumnya perlu diidentifikasi masalah kesehatan apa yang dialami, untuk menentukan jenis pemeriksaan kesehatan yang akan dilakukan. Pemeriksaan kesehatan yang sering dilakukan biasanya terkait penyakit mata, gigi, pendengaran dan cacingan
ü Membiasakan hidup bersih dan sehat
ü Membuat lingkungan rumah yang bersih dan sehat
5
Tidak ada guru di sekolah
ü Para anggota komite sekolah, orang tua dan pengawas sekolah harus melakukan respon aktif terhadap hal ini dengan memberikan teguran akan kewajiban dari seorang guru **
ü Mengontrak guru honorer
ü Para orang tua yang mempunyai kompetensi mengajar bisa menjadi guru sukarelawan di kelas
6
Perkawinan dan kehamilan dini (usia muda)
ü Sosialisasi atau penyuluhan yang intensif atau gencar terhadap pentingnya pendidikan bagi masa depan anak

MERAJUT GENERASI SEHAT DAN CERDAS

Berbagai strategi Pemerintah dan organisasi masyarakat berjuang membangun generasi sehat dan cerdas, melalui penguatan atau perancangan kembali program-program penanggulangan kemiskinan yang telah ada. Rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan pada rumah tangga miskin merupakan tantangan utama yang harus dihadapi dalam mencapai tujuan.
 
Melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, diharapkan akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan milenium, di antaranya: peningkatan pendidikan dasar, pengurangan angka kematian bayi dan balita, peningkatan kesehatan ibu atau pengurangan angkat kematian ibu melahirkan, kesetaraan gender dan pengurangan penduduk miskin dan kelaparan. Rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan pada rumah tangga miskin merupakan tantangan utama yang harus dihadapi Indonesia dalam rangka penanggulangan kemiskinan.
 
Masih tingginya angka mortalitas balita serta rendahnya tingkat penyelesaian pendidikan dasar dan menengah pertama anak-anak dalam rumah tangga miskin, merupakan isu-isu strategis yang sangat berpotensi menghambat upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Tanpa disertai upaya peningkatan kesehatan dan pendidikan, terutama kepada anak-anak generasi mendatang yang hidup dalam setiap rumah tangga miskin, upaya untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia akan sulit dilakukan. Ditinjau dari sisi kebutuhan masyarakat serta pelayanan pendidikan dan kesehatan di Indonesia, ada beberapa masalah yang perlu menjadi perhatian.
 
Beberapa masalah yang terjadi dari sisi kebutuhan masyarakat adalah sebagai berikut :
  1. Ketidak-tahuan maupun ketidakpedulian rumah tangga miskin terhadap pentingnya kesehatan dan pendidikan.
  2. Ketidak-mampuan ekonomi rumah tangga miskin untuk membiayai perawatan kesehatan maupun menyekolahkan anggota keluarganya.
  3. Ketidak-mampuan keluarga miskin secara konsisten dalam pemeriksaan status kesehatan dan pembiayaan pendidikan bagi anggota keluarga.
 
Sedangkan beberapa masalah yang terjadi dari sisi pelayanan adalah :
  1. Cakupan layanan kesehatan dan pendidikan yang kurang memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat.
  2. Biaya layanan kesehatan dan pendidikan yang tidak terjangkau, terutama bagi keluarga miskin.
  3. Akses layanan kesehatan dan pendidikan jauh dari tempat tinggal keluarga miskin.
  4. Waktu layanan kesehatan dan pendidikan tidak sesuai dengan pola aktivitas keluarga miskin.
 
Berdasarkan permasalahan sebagaimana di atas, perlu upaya-upaya strategis untuk mengatasinya. Upaya strategis yang dilakukan harus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, yaitu dengan menerapkan strategi pembangunan secara partisipatif yang mengedepankan dasar-dasar pemberdayaan masyarakat.

26 Juli 2015

PROPOSAL TERNAK SAPI

USAHA TERNAK SAPI
UNTUK MENUJU MASYARAKAT MANDIRI DAN SEJAHTERA

Sebagai upaya menciptakan masyarakat yang sejahtera mandiri dan madani. Merupakan pembangunan berbasis pemberdayaan seluruh komponen pembangunan dengan memanfaatkan sumber daya secara optimal.
 
Untuk mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak yang berbasis sumberdaya domestic, perlunya mencanangkan program wirausaha pemula. Keberhasilan program untuk mendukung kemandirian dan peningkatan ekonomi masyarakat sangat kepada partisipasi penuh stakeholder, sehingga bagaimanapun baiknya program yang disusun tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat peternak dan para pelaku peternakan sapi potong lainnya.
 
Saat ini kebutuhan daging dan sapi bakalan sangat besar, sekitar 30 persen dari kebutuhan daging nasional. Bahkan ada kecenderungan volume impor terus meningkat yang secara otomatis akan menguras devisa Negara sangat besar. Bila kondisi ini tidak diwaspadai, hal ini dapat menyebabkan kemandirian dan kedaulatan pangan hewani khususnya daging sapi semakin jauh dari harapan, yang pada gilirannya berpotensi masuk dalam “food trap” Negara eksportir.
 
Usaha pengembangan ternak sapi cukup mampu memberikan manfaat ekonomi bagi peternak rakyat. Selama ini usaha peternakan Sapi biasanya yang dilakukan oleh para petani di desa-desa secara tradisional dan terbatas.

Peluang pasar ternak pengemukan sapi cukup tinggi. Salah satu kendala yang saat ini dialami adalah kurangnya modal petani dalam rangka peningkatan jumlah skala usaha ternak melalui pengadaan bibit atau bakalan.

Belakangan ini harga bibit sapi sangat tinggi, sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat petani yang berpendapatan rendah. Kondisi ini tentu membutuhkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.

Untuk mengatasi kendala kurangnya modal dari petani. Dengan demikian dapat membantu peternak dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan serta ketahanan pangan secara domestic dapat tercapai.

Tujuan dari usaha peternakan sapi ini adalah :
1. Mengembangkan usaha peternakan sapi bali yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan kuantitas.
2. Meningkatkan system pemeliharaan ternak sapi secara professional.
3. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak sapi
4. Meningkatnya populasi ternak sapi
5. Menciptaan lapangan kerja baru bagi anggota keluarga dan masyarakat
6. Dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya usaha budidaya sapi dan ikutannya.

Sasaran Usaha ini adalah :
1.    Mengurangi ketergantungan petani ternak hanya pada usaha pertanian lahan.
2.    Memanfaatkan limbah tanaman untuk makanan ternak dan penanaman pakan ternak dengan cara tumpang-sari pada lahan pertanian yang ada
3.    Meningkatkan produksi daging sapi yang berkualitas.
4.    Dapat memproduksi hasil ikutan lainnya, seperti pupuk kompos dan lainnya.
5.    Meningkatkan daya beli masyarakat


ANALISA PASAR
Usaha peternakan sapi bali memiliki prospek yang cukup baik, karena permintaan pasar selalu meningkat seiring tumbuhnya dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi hewani.


Kemudian, usaha ternak sapi mempunyai peluang untuk memasarkan dua jenis produk, yakni : Pertama, ternak sapi gemuk yang berat badannya sudah mencapai 322 kg. Dan kedua, Pupuk kompos, sebagai hasil tambahan.


Peluang pasar untuk ternak sapi cukup besar, karena permintaan ternak sapi sebenarnya melebihi jumlah ternak sapi yang siap jual dengan harga yang cukup tinggi. Walaupun harga jual sapi dibandingkan dengan harga pokok penggemukan sapi, tetapi masih memberikan peluang kepada petani ternak sapi untuk memperoleh laba.


Resiko kematian sapi relatif kecil, yaitu 1%, karena petani sudah ada sebagian kecil yang ternak sapi sejak jaman dulu. Disamping itu peluang pasar untuk menjual pupuk kompos juga cukup tinggi. Apalagi didukung dengan ada sebagian penduduk di sekitarnya adalah petani tanaman pangan, yaitu padi sawah dan palawija, serta tanaman perkebunan yang sangat membutuhan pupuk organic.


Pertimbangan lainnya adalah lokasi ternak tidak jauh dari pusat kota kabupaten, dan kota provinsi. Disamping tingat konsumsi protein hewani asal daging sapi yang semakin tinggi, kehadiran hotel-hotel berbintang juga mengisyaratan akan tingginya kebutuhan daging sapi. Sehingga terbuka peluang untuk pemasaran hasil ternak.


RESIKO USAHA
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian Resiko Usaha Penggemukan Sapi Bali ini, diantaranya:
1.    Sapi terserang penyakit
2.    Pencurian sapi
3.    Naiknya harga vaksin dan pakan
4.    Naiknya harga BBM yang mempengaruhi biaya operasional


MODAL KERJA / INVESTASI
Asumsi-asumsi dalam usaha penggemukan Sapi adalah :
Lahan yang dipergunakan merupakan perkebunan pribadi yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
Ukuran kandang sebesar 4 x 6 M

Sapi yang dipelihara sebanyak 4 ekor, terdiri 3 jenis betina dan 1 pejantan Sapi Bali dengan harga awal Rp. 5.000.000,-/ekor dan berat badan lebih dari 250 kg/ekor

Sapi dipelihara selama 6 bulan atau 180 hari dengan berat badan seitar 0.8 kg/ekor/hari.

Biaya pembangunan kandang sebesar Rp. 5.000.000,-

Penyusutan kandang 20% per tahun dengan demikian penyusutan periode 10% dengan taksiran usia ekonomis 5 tahun


Sapi membutuhkan Vitamin dan obat-obatan sebesar Rp. 10.000,-/ekor/bulan


Peralatan kandang termasuk genset listrik dibutuhkan sebesar Rp. 1.000.000,-/tahun, dengan demikian untuk satu periode Rp. 500.000,-


Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 3.600 kg kering dengan harga Rp. 1.000,-/kg


Bio Urine yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 3.600 liter dengan harga Rp. 1.000,-/liter.


Pakan yang diperlukan untuk satu periode HMT 40 kg x 30 x 180 x Rp. 300,- dan konsentrat 3 kg x 30 x 180 x Rp. 4.000,-

 

ASPEK TEKNIS
USAHA PETERNAAN SAPI BALI
( DALAM 1 PERIODE PENGGEMUKAN )
NO
KETERANGAN
JUMLAH
SATUAN
1
Pengadaan Sapi
 
 
 
Populasi awal Penggemukan
4
Ekor
 
Harga sapi bali bakalan
5.000.000,-
Rp/Ekor
 
Taksiran bobot awal bakalan
250
Kg/Ekor
2
Periode Penggemukan
 
 
 
Jumlah bulan penggemukan
6
Bulan
 
Jumlah hari penggemukan
180
Hari
3
Produksi Sapi Penggemukan
 
 
 
Penambahan Bobot Ternak
0,8
Kg/Ekor/Hari
 
Bobot tercapai dalam 1 periode
150
Kg/Ekor
 
Bobot akhir Ternak
400
Kg/Ekor
 
Harga Jual Sapi penggemukan
25.000
Rp/Kg/ST
4
Pakan
 
 
 
HMT (10% x bobot sapi)
35
Kg/Ekor/Hari
 
Konsentrat (1% x bobot sapi)
3
Kg/Ekor/Hari
 
Harga HMT
300
Rp/Kg
 
Harga Konsentrat
4.000
Rp/Kg
5
Obat-obatan dan Vitamin
 
 
 
Obat-obatan dan Vitamin
5.000
Rp/ST/Bln
6
Biaya Lain-lain
 
 
 
Kebutuhan listrik
1
Kwh/hari
 
Biaya listrik
2.000
Rp/Kwh
7
Biaya Tenaga Kerja
30.000
Rp/HOK
8
Peralatan Kandang
750.000
Rp/Thn
 
Penyusutan Peralatan
375.000
Rp/Periode
9
Produksi Pupuk
 
 
 
Kotoran Basah (60% tercerna)
16
Kg/Ekor/Hari
 
Produksi kompos (kadar air = 24,21%)
5
Kg/Ekor/Hari
 
Harga Pupuk Kompos
1.000
Rp/Kg
 
Produksi Bio Urine Sapi
5
Liter/Ekor/Hari
 
Harga Bio Urine
1.000
Rp/Liter

 

PERHITUNGAN RUGI/LABA

Analisis keuangan dari penggemukan sapi bali dalam Periode I (6 bulan)

ANALISIS PENGGEMUKAN SAPI BALI
( Dalam 1 Periode )
NO
URAIAN
JML
SAT
HARGA
JML. BIAYA
BIAYA-BIAYA
1
BIAYA INVESTASI
 
Pembuatan Kandang
1
Unit
5.000.000,-
5.000.000,-
 
Peralatan Kandang Genset
1
Unit
1.000.000,-
1.000.000,-
 
TOTAL BIAYA INVESTASI
6.000.000,-
2
BIAYA VARIABEL
 
Pembelian Bibit Bakalan Sapi Bali
4
Ekor
5.000.000,-
20.000.000,-
 
Hijau Makanan Ternak (HMT)
25.200
Kg
250,-
6.300.000,-
 
Konsentrat
2.160
Kg
4.000,-
8.640.000,-
 
Kesehatan Ternak (Vitamin dan Vaksin)
6
Bulan
120.000,-
720.000,-
 
Biaya Listrik
180
Kwh
2.000,-
360.000,-
 
TOTAL BIAYA VARIABEL
36.020.000,-
3
BIAYA TETAP
 
 
Tenaga Kerja
24
HOK
30.000,-
720.000,-
 
Penyusutan Kadangan 10%
10
%
5.000.000,-
500.000,-
 
Penyusutan Peralatan Kandang 50%
50
%
1.500.000,-
750.000,-
 
TOTAL BIAYA TETAP
1.970.000,-
TOTAL BIAYA-BIAYA (B. INVESTASI + B. VARIABEL + B. TETAP
43.990.000,-
PENERIMAAN
 
 
Penjualan Sapi (Target 400 kg/ekor)
1.600
Kg
25.000,-
40.000.000,-
 
Penjualan Pupuk Kompos
3.600
Kg
1.000,-
3.600.000,-
 
Penjualan Bio Urine
3.600
Liter
1.000,-
3.600.000,-
 
TOTAL PENERIMAAN
47.200.000,-
KEUNTUNGAN
3.210.000,-
R/C RASIO
1,1 %

Keterangan:

periode pertama keuntungan relative kecil (1.1%), karena pembangunan asset yang cukup besar yakni pembangunan kandang. Namun, pada periode selanjutnya keuntungan mulai bertambah.

 

 

 

RENCANA PENGEMBANGAN USAHA

Dalam rangka membantu perbaikan perekonomian di pedesaan, menciptakan lapangan kerja dan membantu pemerintah mengurangi kelangkaan daging sapi, serta pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organic yang sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk usaha pertaniannya.

 

Adapun rencana kegiatan akan dilaksanakan sebagai berikut:

Tahapan
Kegiatan
1
Pengajuan Proposal Bantuan dana modal usaha
2
Penyiapan Lokasi dan pengadaan peralatan kerja
3
Pembuatan Kandang
4
Mulai Pemeliharaan/pembesaran penggemukan sapi
5
Panen Pertama dan Penjualan hasil

 

Strategi Pengembangan Usaha Jangka Panjang:

Pada tahap pertama, saya akan memulai dengan 4 ekor sapi bali yang akan dibudidayakan (dibesarkan). Setiap periode budidaya baru direncanakan akan dilakukan pengembangan atau penambahan jumlah bakalan. Diharapkan dalam setiap periode produksi/panen dapat penambahan bibit sapi atau bakalan minimal 1 ekor, sehingga pada saat panen setelah panen periode ke-2 (mulai periode ke-3 dan seterusnya) ada peningkatan hasil.

 

Mulai tahun ke-3 sudah dikembangkan teknik dan usaha pembibitan bakalan. Hal ini memungkinkan untuk dimulai karena dari sejak awal usaha sudah disiapkan bakal calon induk dan/atau induk jantan dari sapi bali pada tahun ke-2 – ke-3 diharapkan sudah terdapat induk yang berkualitas. Selain itu, sebagai antisipasi dalam upaya penambahan jumlah produksi yang memerlukan lebih banyak bibit. Dan akan dibangun perternakan terpadu, yaitu dengan adanya pertanian kebun sayur-sayuran, Penyediaan pupuk kompos dan biogas.

 

Seiring melakukan pengembangan jumlah bakalan, dilakukan juga pengembangan jaringan dan manajemen pemasaran (perluasan pangsa pasar), dan kerjasama dengan stakeholder-stakeholder pembeli dan penampung.

 

 

PENUTUP

Demikian gambaran singkat proposal usaha budidaya penggemukan sapi, semoga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang usaha peternaan sapi yang direncanakan. Besar harapannya kegiatan ini mendapatkan dukungan permodalan, agar terciptanya lapangan kerja baru yang berdampak pada berkurangnya pengangguran dan meningkatnya taraf hidup masyarakat.

SILAHKAN DUKUNG BLOG INI

KE REKENING BCA 8855 1274 62 AN. ATENG