25 Oktober 2011

MEMBANGUN KESEJAHTERAAN DIRI

Pernahkah Anda merasa heran melihat seseorang yang tidak memiliki aktivitas rutin seperti karyawan kantoran, tetapi memiliki kehidupan yang mapan dan bahagia? Mungkin Anda akan berpikir, mereka anak orang kaya sehingga semua biaya ditanggung orangtua. Atau mereka memiliki warisan yang sangat besar dan memakai warisan tersebut untuk membiayai seluruh kebutuhan hidup mereka.

Menurut Freddy Pieloor, CFP, Financial planner, bahwa mereka bukan anak orang kaya atau mendapatkan warisan berlimpah. Mereka hanya memiliki passive income atau pendapatan pasif, yang dapat memberikan penghasilan rutin tanpa perlu bekerja banting tulang.

Pendapatan pasif adalah sebuah penghasilan yang diterima secara rutin setiap bulan dari sebuah atau beberapa sumber investasi atau bisnis yang telah dibangun dan dimiliki di waktu yang lalu. Sesungguhnya sebagian besar dari mereka yang saat ini telah hidup nyaman dan bahagia berkat pendapatan pasif, dahulunya adalah karyawan kantoran.

Namun sejak awal saat mereka menerima penghasilan aktif (kala bekerja), mereka selalu menyisihkan setiap uang yang diperoleh. Setelah mereka sisihkan, uang itu diakumulasikan, diinvestasikan, dan dikembangkan dalam berbagai jenis instrumen investasi dan bisnis.

Awalnya bangunan investasi dan bisnis mereka juga merangkak dan bertahap. Setelah melalui satu dasawarsa, mereka mampu menghasilkan dan mendapat ganjaran penghasilan yang melebihi kebutuhan hidup bulanan.


Setiap tahun, akumulasi pendapatan pasif bertumbuh dan berbuah. Mereka tidak langsung memanfaatkan pendapatan pasif tersebut, tetapi mereka gulung atau putar terus dalam berbagai investasi dan bisnis.

Mereka menunda kesenangan dan kepuasan diri dalam beberapa waktu yang relatif lama, tetapi mendapatkan kebahagiaan dan kenyamanan diri untuk periode waktu yang lebih lama hingga menutup mata.

Sekarang saat Anda menyisihkan setiap pendapatan yang diterima, dengan menunda kesenangan dan kepuasan diri sekarang, sisihkan pendapatan sebesar 20 persen dari setiap uang yang diterima. Uang itu untuk diakumulasikan dan diinvestasikan agar dapat memberikan hasil dan buah yang berlimpah pada waktu mendatang.

Ada beberapa usaha yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan, diantaranya :
1. Obligasi yang memberikan kupon setiap bulan atau per tiga bulan sesuai kontrak.
2. Reksadana pendapatan tetap.
3. Rumah, rumah toko, apartemen, atau kios yang disewakan.
4. Usaha atau bisnis yang dijalankan sendiri atau dioperasikan pihak ke-3.
5. Usaha franchise.

Setiap usaha yang dilakukan harus ditekuni dengan baik dan mempunyai nilai pelayanan, agar usaha yang dilakukan dapat tetap eksis dan baik bagi sesama ciptaan Tuhan.

28 September 2011

MOTIVASI DIRI / SELF MOTIVATION

Hal yang tidak bisa kembali :
- Waktu
- Kata-kata
- Kesempatan

Hal yang dapat menghancurkan
Hidup :
- Kemarahan
- Keangkuhan
- Dendam



Hal yang tidak boleh hilang :
- Harapan/optimisme
- Keiklasan
- Kejujuran

Hal yang Paling Berharga :
- Kasih Sayang
- Cinta
- Kebaikan

Hal yang tidak pernah pasti :
- Kekayaan
- Kesuksesan
- Mimpi

Hal yang dapat membentuk karakter seseorang :
- Komitmen
- Ketulusan
- Kerja keras

Hal yang membuat kita Sukses :
- Impian
- Kemauan
- Focus

Hal yang tidak pernah kita tahu :
- Rezeki
- Umur





25 Agustus 2011

Perselingkuhan dan Penyebabnya

Pernikahan adalah momen membangun kehidupan baru bersama pasangan. Suka duka akan dihadapi berdua, sebisa mungkin tidak melibatkan pihak lain untuk menyelesaikan masalah. Namun, masalah rumah tangga kadang tidak sesederhana yang dihadapi ketika masih pacaran. Bukan cinta lagi yang dibutuhkan, tetapi komitmen, untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

Menurut psikolog Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono, cinta bukanlah pengikat pernikahan. Cinta hanyalah faktor yang bisa menarik seseorang untuk memutuskan berpasangan.

“Cinta paling lama bertahan tiga tahun, lalu hilang. Sisanya adalah komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab,” ujar Prof Sarlito, saat peluncuran buku Mencegah Selingkuh dan Cerai karya sosiolog Dra Hartati Nurwijaya di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Minggu (14/8/2011) lalu.

Salah satu penyebab retaknya rumah tangga menurut Prof Sarlito adalah perselingkuhan. Perselingkuhan itu sendiri biasanya disebabkan oleh beberapa faktor seperti: kemajuan teknologi, workaholic, dan sifat posesif.


Kemajuan teknologi
Teknologi bukan hal yang menjadi asal-usul perselingkuhan, namun bisa memicu perselingkuhan. Ketakutan bahwa kemajuan teknologi bisa membuat pasangan selingkuh, bisa membuat seseorang melanggar privasi pasangannya. Misalnya, membuka e-mail, SMS, atau situs jejaring sosial pasangan, bahkan minta password segala. Kebiasaan inilah yang menurut Prof Sarlito kerap memicu pertengkaran.

“Beri kepercayaan pada pasangan untuk punya wilayah privasinya sendiri. Kalau ternyata dia selingkuh, itu bisa diurus belakangan. Intinya jangan cari-cari masalah,” jelas Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia yang mendalami Psikologi Sosial ini.

Bagaimanapun, teknologi akan mempermudah pekerjaan dan kehidupan seseorang. Jadi, pasangan pun berhak menikmatinya.

Workaholic
Bila salah satu atau kedua pihak terlalu asyik dengan pekerjaan masing-masing, perlahan-lahan bisa menghilangkan kesetiaan. Jika workaholic tidak diselingi dengan kencan berdua, misalnya, akan sulit bagi pasangan untuk bertahan. Hubungan pernikahan akan terasa hambar dan terasa sama saja dengan rutinitas hidup yang lain. Rasa hambar ini kelak akan berujung pada keinginan untuk mencari “selingan”. Siapa yang menjadi "selingan" tersebut? Kemungkinan besar adalah rekan kerja, partner bisnis, atau siapapun yang biasa Anda jumpai saat bekerja atau beraktivitas.

Sifat posesif
Orang yang selalu menginginkan pasangan berperilaku sesuai dengan keinginannya cenderung membuat pasangan menjadi bosan. Kehidupan rumah tangga pun menjadi kaku karena pasangan selalu merasa diawasi dan akhirnya merasa terkekang.

Contohnya masalah cemburu. Cemburu yang berlebihan bisa memberi penghakiman yang terlalu cepat kepada pasangan, padahal perselingkuhan belum tentu terjadi. Kemarahan yang tidak memiliki alasan kuat justru akan menambah keretakan hubungan. Karena sifat manusia cenderung selalu memilih yang lebih baik, jangan sampai ulah Anda yang pencemburu atau posesif mendorong pasangan mencari orang lain.

“Jangan bermimpi mengubah seseorang, tapi ubah dulu diri Anda, maka pasangan akan mengikuti,” tukasnya.

By. TRIBUNNEWS.COM

SILAHKAN DUKUNG BLOG INI

KE REKENING BCA 8855 1274 62 AN. ATENG