07 Juli 2012

MELATIH DIRI BERPIKIR POSITIF

Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang 'beredar' di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.

Melihat masalah sebagai tantangan
Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.


Menikmati hidupnya
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.

Mengenyahkan pikiran negatif segera
Setelah pikiran itu terlintas di benak 'Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.

Mensyukuri apa yang dimilikinya
Orang yang memiliki pikiran positif akan senantiasa bersyukur atas segala yang dimilikinya, dan tidak pernah berkeluh kesah dterhadap apa yang tidak dimilikinya.

Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu
Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.

Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan
Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.

Menggunakan bahasa positif
Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," dan "Dia memang berbakat."

Menggunakan bahasa tubuh yang positif Diantaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.

Peduli pada citra diriItu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam Prasangka buruk, anggapan negatif, keluh kesah dan banyak lagi istilah lainnya yang serupa, tidak akan pernah mengantarkan anda menjadi pribadi yang tegar dan bermental pemenang.

Hindari halusinasi negatif, kata-kata pesimis, dan kamus mengeluh dalam kehidupan kita. Buang jauh-jauh prasangka negatif terhadap diri dan kemampuan anda, terhadap orang-orang disekitar anda, dan terhadap takdir yang telah Tuhan berikan. Berfikirlah positif maka sikap optimis akan segera menghampiri anda.

01 Juni 2012

Ujian Kehidupan Dunia

Sekolah tidak boleh hanya menjadi persiapan untuk hidup.
Sekolah harus menjadi kehidupan.
--Elbert Hubbard—

Setiap orang pasti pernah mengalami rasa galau, tak terkecuali dengan Winston Churchill. Inilah kegalauan yang pernah dirasakan mantan Perdana Menteri Britania Raya semasa Perang Dunia ke-2.

“Saya hampir merayakan ulang tahun ke-12 ketika memasuki wilayah-wilayah ujian sekolah yang tidak ramah, yang, selama 7 tahun berikutnya, saya diwajibkan menempuh perjalanan itu. Ujian ibarat persidangan besar bagi saya. Subjek-subjek yang disukai para penguji hampir semuanya adalah materi-materi yang tidak saya sukai.

Sebenarnya, saya lebih suka diuji dalam subjek sejarah, puisi, dan menulis esai. Tetapi, di pihak lain, para penguji lebih suka Bahasa Latin dan matematika. Dan kehendak merekalah yang berlaku. Terlebih lagi, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tentang kedua subjek tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama sekali tidak mampu saya jawab dengan memuaskan.

Saya sebenarnya lebih suka jika diminta untuk mengatakan apa yang saya ketahui benar-benar. Tetapi mereka selalu mencoba menanyakan apa yang tidak saya ketahui. Ketika saya hendak bermaksud menunjukkan pengetahuan saya, mereka mencoba mencari-cari dan mengungkap ketidaktahuan saya. Perlakuan semacam itu hanya akan mengakibatkan satu hasil, saya tidak dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik.

"Ujian sekolah sangat berbeda dengan ujian hidup. Ujian sekolah merupakan bagian kecil dari ujian hidup. Sesulit apa pun ujian sekolah, pasti ada kunci jawabannya. Tapi ujian hidup, kunci jawabannya ada pada kesadaran untuk mengambil hikmah atas setiap kejadian yang dialami.

Ujian, fase hidup yang harus dilewati agar bisa "naik kelas". Tanda naik kelas bisa ditunjukkan lewat bertambahnya pengalaman hidup, konsistennya semangat belajar, terjaganya sikap kejujuran, makin terasah keterampilan hidup, serta indikator sejenis lainnya.

Ujian sekolah mestinya bisa menguji pula cara berpikir dan bersikap murid. Memang, hasil ujian sekolah pada akhirnya hanya menorehkan sejumlah angka dan huruf, yang menunjukkan murid berhasil atau gagal mengikuti suatu program pendidikan. Itu sudah tepat. Meski masih ada yang kurang, jika hanya aspek pengetahuan saja yang diujikan.

Kondisinya malah lebih mengenaskan, jika ujian itu tak mampu melatih serta makin mengasah keterampilan hidup yang mestinya bisa dikuasai murid. Bisa dipastikan, ketika ujian telah berlalu, maka tak ada satu kemampuan khusus dimiliki murid. Ada dan tiadanya ujian sekolah, tak mampu membuat keterampilan hidup murid semakin terasah dan membuat mereka siap menghadapi tantangan hidup di masa depan kelak.

Ujian sekolah, apa pun jenis serta namanya, entah itu ulangan harian, ujian semester, maupun ujian nasional, hal itu merupakan simbolisasi proses evaluasi perkembangan belajar siswa di suatu sekolah. Persoalan muncul ketika hasil ujian sekolah tak mampu mengubah keterampilan murid untuk mengantisipasi persoalan kehidupan.

Boleh jadi seorang murid punya nilai bagus untuk ujian matematikanya. Tapi, mampukah murid gunakan ilmu matematika tersebut untuk mengambil keputusan penting dalam hidupnya? Murid bisa jawab soal ujian tentang tahun terjadinya perang Diponegoro. Tapi, bisakah murid mencari makna hidup dari kalahnya Pangeran Diponegoro ketika berperang melawan penjajah?

Sehebat apa pun ujian sekolah, tetap terbatas pada soal menguji pengetahuan saja. Padahal, hidup tak cukup bermodal pengetahuan. Tapi mesti mampu mengkombinasikan pengetahuan, sikap hidup yang tepat, dan keterampilan yang dimiliki, untuk menjadi modal dalam mengarungi persaingan hidup.

Adakah satu cara untuk menakar kualitas pengetahuan, sikap, serta keterampilan hidup kita secara bersamaan? Itulah ujian hidup. Ujian hidup menuntut kita untuk selalu bersiaga, agar tetap konsisten belajar sampai akhir hayat. Sekolah baru disebut kreatif, jika di saat murid harus mengikuti ujian pengetahuan, secara tersirat murid pun diuji untuk mampu tetap bersikap jujur, mampu mengelola waktu belajar, mampu menggunakan strategi belajar efektif dan menguji keterampilan hidup lainnya di luar konten materi ujian sekolah.

Ken Key (President Partnership for 21st Century Skills) menyatakan, bahwa sosok manusia abad 21 harus memiliki beberapa keterampilan dasar penting, di antaranya: (1) Pemikir yang kritis; (2) Seorang penyelesai masalah; (3) Dapat berkomunikasi secara efektif; (4) Dapat berkolaborasi secara efektif; (5) Dapat mengarahkan diri sendiri; (6) Paham akan informasi dan media; (7) Paham dan sadar akan fenomena global; (8) Memikirkan kepentingan umum; (9) Terampil dalam keuangan, ekonomi, dan kewirausahaan.

Pertanyaan kritisnya, apakah dunia pendidikan lewat aktivitas di sekolah, telah mampu menghasilkan sumber daya manusia yang punya seabrek keterampilan hidup agar bisa menjadi manusia abad 21? Ujian sekolah dapat dipastikan takkan mampu jawab tantangan ini. Hanya ujian hidup saja yang akan mampu membuat murid selalu sadar untuk terus belajar sepanjang hayat.

Sekolah terbatas pada jenjang pendidikan tertentu. Itu pun, jika mampu membayar biayanya yang kini sudah setinggi langit.

Kehidupan, sekolah terbaik yang memberikan keleluasaan siapa pun untuk mempelajari sesuatu yang berharga dalam hidup. Sayangnya, sekolah tak pernah ajarkan bagaimana caranya bisa survive dalam hidup. Lucunya, orang-orang lulusan sekolah bahkan tak mampu atasi persoalan hidup mereka. Lantas, apa yang sudah mereka lakukan di sekolah? Apakah ujian sekolah tak mampu menjadi ajang latihan menyelesaikan persoalan hidup yang jauh lebih rumit?

Kehidupan, punya teka-teki menarik untuk dipelajari. Gratis, tak usah bayar untuk mengikuti ujian kehidupan. Tak ada seabrek syarat agar kita bisa ikut ujian kehidupan. Modalnya hanya satu, kemauan untuk terus belajar. Maaf, tak ada sertifikat kelulusan bagi yang sudah melakoni ujian kehidupan. Kemandirian dalam cara berpikir dan bersikap, itulah tanda orang-orang yang lulus ujian kehidupan. Tengok sebentar mereka yang lulus ujian sekolah? Corat-coret seragam jadi pilihan sikap karena merasa sudah lulus ujian. Lantas setelah itu, mereka bingung apa yang mesti diperbuat untuk masa depan mereka? Sungguh memilukan.

12 Mei 2012

WARISAN UNTUK ANAK CUCU

“The greatest legacy is that which benefits the widest number of people for the longest period without limit to value.” – Warisan terhebat adalah sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia dan berlangsung selamanya.” Steven Cat, artis penyanyi USA

Bila berpikir tentang warisan untuk anak cucu, kebanyakan dari kita akan berpikir tentang mewariskan harta benda atau barang-barang berharga. Siapapun ingin meninggalkan warisan yang berlimpah kepada generasi penerusnya. Namun sesungguhnya ada hal-hal yang lebih penting dibandingkan harta untuk diwariskan kepada anak cucu kita. Salah satu warisan yang tak ternilai harganya adalah kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.

Kemerdekaan ini direbut oleh para pahlawan bangsa dengan pengorbanan yang sangat besar termasuk harta benda, tetesan darah dan keringat. Berkat perjuangan para pahlawan tanpa pamrih itulah kita dapat mewarisi kemerdekaan dan mereguk kebebasan seperti sekarang. Tanpa kemerdekaan kita tak akan dapat bebas untuk melakukan aktifitas, berpendapat, berkreasi, memiliki kesempatan hidup layak dan lain sebagainya. Kemerdekaan ini memungkinkan kita semua untuk melakukan sesuatu yang inspriratif dan mampu menjadikan masa depan lebih baik.

Oleh sebab itu, manfaatkanlah kesempatan ini dengan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya dan jujur, sehingga terhindar dari berbagai bentuk penjajahan model baru; misalnya penjajahan budaya ataupun produk-produk dari negara lain yang belum tentu lebih baik dari milik bangsa sendiri. Selain kemerdekaan, ada beberapa jenis warisan yang sangat penting untuk anak cucu. Salah satu yang paling penting adalah nilai dan pelajaran hidup.

Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa nilai-nilai dan sistem kepercayaan warisan dari orang tua lebih penting daripada uang atau aset-aset berharga lainnya. Taipan saham terkaya di dunia, Warren Buffet, merupakan contoh orang tua yang memilih untuk mewariskan nilai-nilai mulia ketimbang harta yang berlimpah. Warren Buffet sengaja mendonasikan USD 31 milyar untuk kemanusiaan melalui yayasan Bill & Melinda Foundation untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada para putra-putrinya. Ia ingin ketiga anakknya, yaitu Howard Graham Buffet, Peter Buffet, Susie Buffet, mewarisi sifat-sifat mulia yang ia miliki, karena ia meyakini bahwa kemuliaan sikap dapat diandalkan (oleh keturunannya) untuk hidup lebih semangat dan optimis menatap kehidupan namun tetap rendah hati.

“I Want to give my kids just enough, so they would feel that they could do anything, but not so much, that they would feel like doing nothing. – Saya ingin memberi anak-anak saya secukupnya, sehingga mereka dapat menyadari bahwa mereka dapat melakukan apa saja, tetapi tidak terlalu banyak (yang dilakukan), sehingga mereka merasa tak melakukan apapun,” katanya.

Sifat-sifat mulia memang menjadi komoditas penting, yang memudahkan seseorang mencapai kesuksesan di bidang apapun secara alamiah dan bertahan lama. Kemuliaan sifat seseorang akan menjadikan dirinya menjalankan tanggung jawab dengan hati, sebaik mungkin dan tanpa pamrih. Pastikan untuk menanamkan sifat-sifat mulia kepada generasi penerus, sebagai aset penting bagi mereka (generasi penerus) untuk menjalani hidup dengan baik dan meraih kesuksesan.

Wariskanlah pula sikap mandiri, berani dan semangat bekerja. Bayangkan para pejuang dahulu yang berani bertaruh nyawa untuk mengusir penjajah walaupun hanya dengan sebilah bambu runcing. Oleh sebab itu, tanamkanlah nilai-nilai keberanian, kemandirian dan semangat kerja sebab itulah modal penting generasi penerus untuk meniti kehidupan dan meraih sukses di masa depan.

Berikanlah bekal ilmu pengetahuan yang cukup kepada putra dan putri kita dengan menyekolahkan di sekolah-sekolah formal. Selain itu, berikanlah contoh sikap sebagai orang tua yang senang belajar, misalnya dengan gemar membaca atau belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Mewariskan sikap yang gemar belajar ini akan menjadikan generasi muda memiliki ilmu pengetahuan yang luas, mampu menetapkan visi sekaligus melakukan langkah-langkah yang tepat dan bijak serta perhitungan matang sehingga impian-impian mereka segera terwujud.

Wariskanlah nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, agar generasi penerus kita mampu bertindak positif dan konstruktif, bijaksana, memiliki kepekaan sosial, tidak serakah, dan lain sebagainya. Nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual yang tertanam kuat akan menjadi panutan hidup mereka. Keluhuran sikap yang didasari oleh nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual dapat memastikan generasi penerus meraih mampu sukses dengan cara yang benar dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Sebelum kita terlalu tua, mari segera mengumpulkan warisan-warisan penting tersebut di atas bagi anak cucu kita, sebab waktu kita sangat singkat. Janganlah terjebak dalam kesenangan-kesenangan kecil sehingga kita kehilangan banyak waktu dan melupakan hal-hal yang sangat penting untuk bekal para generasi penerus.

Rasanya sangat menyedihkan jika riwayat kehidupan kita tidak meninggalkan rekam jejak sifat dan sikap yang mampu membuat generasi penerus benar-benar mengingatnya dan menjadikannya model untuk menjalani kehidupan dengan baik dan sukses. Sungguh menyenangkan jika sepeninggal kita nanti ada seseorang berkata, “Selamat jalan. Hidupmu telah memberi teladan yang luar biasa dan manfaat bagi banyak orang dan tak akan terlupakan.”

SILAHKAN DUKUNG BLOG INI

KE REKENING BCA 8855 1274 62 AN. ATENG