26 April 2010

Pengembangan Hutan Produksi

Selama ini pengelolaan hutan hanya berorientasi pada produksi kayu, nilai manfaat sumberdaya hutan alam produksi tidak didayagunakan secara optimal. Di samping itu dengan semakin meningkatnya kebutuhan kayu baik secara lokal dan domestik, maka tekanan terhadap hutan alam semakin tinggi. Oleh karena itu pembinaan terhadap produksi hutan rakyat semakin penting untuk segera dilaksanakan.

Hutan mempunyai potensi untuk memberikan kontribusi dalam upaya ketahanan pangan. Untuk itu hutan produksi perlu dikelola sedemikian rupa agar dapat memberikan ruang bagi budidaya aneka tanaman perkebunan dan pertanian, maka kelangsungan produksi hasil hutan, pangan dan jasa hutan lainnya harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian, serta situasi social-ekonomi dan kehidupan masyarakat lokal serta lingkungan.

Berkaitan dengan kebutuhan yang diperlukan dalam pengembangan hutan produksi khususnya sekitar Bukit Samahung, ada beberapa hal yang diperlukan diantaranya:
Peningkatan Kesadaran dan wawasan masyarakat
Masyarakat sekitar bukit samahung sebenarnya sudah turun temurun mempraktekan model agro forestry yang sering disebut Kompokng atau Timawakng, dimana hutan yang ada tumbuh pohon-pohon besar dan diantaranya tumbuh tanaman lainnya yang bisa dimanfaatkan atau tanaman yang mempunyai nilai-nilai ekonomi dan ada kaitannya dengan budaya lokal, seperti: Air, sayur-sayuran, rotan, binatang, buah-buahan, aren, dll.


Namun keberadaan model ini mulai terancam keberadaannya, karena mulai kurang kesadaran dan kurangnya wawasan masyarakat mengelola hutan yang ada. Akibatnya kayu-kayu yang ada diambil untuk pembuatan rumah dan punyai nilai ekonomi yang tinggi apabila dijual keluar, kemudian terbatasnya sumber penghasilan masyarakat diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi.

Jika dikaji lebih jauh lagi masih banyak sumber daya alam hutan bukan kayu yang mempunyai prospek ekonomi kalau dimanfaatkan secara optimal, upaya inilah yang perlu dilakukan agar masyarakat sadar dan tumbuh kemauan untuk mengelolanya dengan memperhatikan keberlanjutan hutan produksi atau hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dikelolanya.

Peningkatan kapasitas masyarakat
Kemampuan masyarakat mengelola hasil hutan bukan kayu memang masih kurang,
seringkali masyarakat tidak menyadari atau tahu tapi tidak ada kemauan untuk mengelolanya. Kadangkala pertanya yang muncul mulai darimana, seperti apa ? Dan kemana harus menjualnya? Ini dapat terlihat dengan salah satu produk aren.

Pohon aren mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, mulai dari akarnya untuk obat; batangnya untuk papan; plepah yang sudah tua untuk kayu bakar; lidinya dan ijuknya untuk penyapu; buah yang masih muda untuk kolangkaling (manisan); dan air niranya untuk gula merah. Namun yang terjadi, masyarakat hanya mengolah air niranya saja, sehingga pohon aren tidak dimanfaatkan secara optimal dan masyarakat beralih mengambil kayu hutan akibatnya hutan menjadi terancam.

Dengan kondisi yang ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pengelola hasil hutan bukan kayu perlu dilakukan, agar pemanfaatan HHBK lebih optimal dan efisien. Kemudian diperlukan kemampuan akses pasar, agar produk yang dihasilkan dapat terjual, serta peningkatan kapasitas manajemen ekonomi keluarga dan kelompok. Harapannya sosial ekonomi masyarakat semakin lebih baik dan pengembangan hutan produksi dapat berjalan dengan baik dan tetap lestari.

Reboisasi lahan kritis dan pengayaan aneka tanaman hutan berbasis masyarakat
Keberlanjutan fungsi hutan sebagai sumber ketahanan pangan, perlu didukung dengan upaya-upaya perbaikan kondisi hutan baik itu pengayaan beraneka jenis tanaman untuk menggantikan pohon yang sudah tua, atau merebilitasi lahan-lahan kritis dengan tanaman yang mempunyai nilai-nilai ekonomi.

Partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci utama, untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap aneka tumbuhan hutan yang ditanamnya sehingga kelestarian hutan tetap terjaga.

Pengembangan agroforestry sistem pertanian dan peternakan terpadu
Praktek agroforesty atau wanatani dilingkungan masyarakat, berhubungan erat dengan komponen pohon, semak, tanaman semusim, ternak dan penggembalaan. Agroforestri pada masyarakat sekitar bukit samahung berupa perpaduan beberapa jenis tanaman tahunan dan semusim. Jenis pohon yang ada mempunyai nilai ekonomi tinggi, seperti: kayu untuk pembuatan rumah, durian, langsat, aren, rotan, geminting, nangka, kopi, coklat, dll.

Pola pertanian dan peternakan yang ada selama ini pada masyarakat masih bersifat tradisional dengan sistem pertanian yang berpindah-pindah dan dilakukan setahun sekali. Sistem peternakan masyarakatpun belum tertata dengan baik, karena ternak yang ada dibiarkan berkeliaran atau tidak dikandang.

Untuk itu diperlukan upaya yang komprehensif menata pola pertanian dan peternakan masyarakat, seperti : Desiminisasi informasi tentang pengembangan pertanian dan peternakan terpadu yang dapat meningkatkan sosial dan ekonomi masyarakat. Contoh-contoh pengembangan sistem pertanian dan peternakan terpadu, misalnya: masyarakat menata peternakan dan bercocok tanam palawija ketika belum musim tanam dengan menggunakan teknologi tepat guna yakni penggunaan pupuk kompos yang ramah lingkungan. Apabila pola peternakan dapat tertata dengan baik, keuntungannya bisa banyak, misalnya: kotoran ternak yang ada bisa digunakan untuk pupuk tanaman palawija (pupuk kompos) dan kalau memang ada orang yang berpengalaman instalasi biogas maka kotoran ternak dan masyarakat bisa dijadikan energi terbarukan untuk masak. Kemudian air misalnya, kalau memang ada kemauan masyarakat sumber air yang ada bisa digunakan untuk budidaya ikan air tawar.

Langkah awal memang perlu desiminiasi informasi, kemudian melihat langsung kondisi masyarakat yang sudah melaksanakan sistem pertanian dan peternakan terpadu, dan dilanjutkan dengan ujicoba dimasyarakat. Sehingga adanya optimalisasi sumber daya yang diharapkan bisa mengembangkan hutan produksi yang ada.

Penggunaan Inovasi teknologi yang ramah lingkungan
Pengembangan inovasi teknologi pada masyarakat sekitar hutan perlu dilakukan dengan pemanfaatan sumber daya yang ada dan pengunaan teknologi yang efesiensi dan ramah lingkungan. Misalnya : Pengunaan energi terbarukan, penggunaan tungku hemat energi / kayu, penggunaan pupuk kompos, dll.

Masyarakat sekitar seringkali tertinggal dari kemajuan teknologi dan informasi, sehingga perlu optimalisasi sumber daya alam yang tersedia untuk kemajuan masyarakat dengan tidak merusak hutan.

Penguatan Kelompok-kelompok Masyarakat
Membangun kesadaran masyarakat diperlukan waktu jangka panjang, sehingga perlu kerja kelompok. Kelompok biasanya menjadi tempat yang baik untuk pembelajaran anggotanya, anggota yang mempunyai kemampuan akan membagikan ilmunya untuk anggotanya. Kemudian melalui kelompok juga partisipasi masyarakat dapat dengan mudah dilibatkan atau digerakkan, apalagi dalam lingkup pengelolaan pengembangan hutan produksi yang ada disekitar masyarakat itu sendiri, sehingga kelompok dipandang strategis di fasilitasi.

Namun yang terjadi dimasyarakat, bekerja bersama itu bisa tapi usaha-usaha berkelompok seringkali tidak bertahan lama. Untuk itu perlu adanya pendampingan yang baik dan selalu menanamkan nilai-nilai kekeluargaan antara anggota kelompok serta pentingnya transparansi dan pertanggunggugatan pengurus dengan baik.

Penguatan Aturan Kesepakatan Masyarakat
Agar hutan produksi tetap terjaga kelestariannya, memang memerlukan aturan kesepakatan antar masyarakat. Masyarakat di sekitar bukit Samahung sudah ada hukum adat sejak nenek moyang, bahkan ada kesepakatan yang diperbaharui pada tahun 1998 tentang tetap menjaga hutan bukit samahung. Namun aturan inipun seringkali dilanggar oleh masyarakat, sehingga Peraturan Adat atau hukum adat yang sudah ada belum cukup menaungi pengelolaan kawasan hutan, maka perlu pembaharuan aturan dengan kesepakatan bersama yang melahirkan peraturan baru, misalnya : Perdes untuk pemanfaatan HHBK dan kawasan konservasi.

Untuk itu, pengembangan hutan produksi perlu ada kesadaran dan kemauan masyarakat untuk belajar dan mencoba hal baru serta partisipasi aktif pihak luar untuk meningkatkan kesadaran, kapasitas, pengembangan teknologi ramah lingkungan dan jaringan pemasaran hasil hutan bukan kayu. Sehingga sosial ekonomi masyarakat dapat tumbuh lebih baik dan hutan yang ada tetap lestari.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Luar biasa, ditambah photo ceweknya lagi

Anonim mengatakan...

Luar biasa, ditambah photo ceweknya lagi

Ridho Adi Kusuma mengatakan...

trus hubungannya ama fotonya apa ?

PAMORRE mengatakan...

Biasanyakan cewek2 sekitar hutan itu cantik2 alami, kalo dipoles sedikit mungkin seperti itu jadinya

SILAHKAN DUKUNG BLOG INI

KE REKENING BCA 8855 1274 62 AN. ATENG